JAKARTA, SENIN - Jalannya Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) antara Komisi III dan mahasiswa Universitas Nasional (Unas) di Gedung DPR, Senin (26/5), berlangsung panas. Seorang mahasiswa, Reza Gusnadi (sebelumnya diberitakan anggota tim advokasi) angkat kaki dari ruang rapat. Ia terlihat emosi menimpali pernyataan anggota Komisi III, Wila Chandra, yang meminta klarifikasi pernyataan Reza yang menyatakan bahwa sebelum melakukan penyerbuan, polisi tidak melakukan negosiasi dan tidak menyemprotkan gas air mata seperti yang selama ini terjadi.
"Ratusan kali kami aksi, biasanya ada penyemprotan air atau gas air mata sebagai peringatan. Tapi ini tidak, negosiasi juga tidak ada," kata Reza menjawab pertanyaan anggota dewan. "Tapi saya lihat di salah satu TV, polisi sudah menyemprotkan gas air mata dan terlihat juga dari barisan mahasiswa melemparkan semacam bom molotov. Itu yang saya lihat dari televisi," ujar Wila.
Namun, belum selesai Wila menyampaikan pernyataannya, Reza memotong dan berkata,"Jam berapa ibu lihat itu? Saya nggak ada lihat yang seperti itu. Ibu jangan gitu dong," kata Reza dengan nada tinggi, dan tak menghiraukan peringatan pimpinan Komisi III Terimedya Pandjaitan.
"Tolong ya, kita dengarkan saja, jangan emosi," ujar Trimedya.
"Kalau begini caranya, saya keluar saja. Tidak ada gunanya disini," kata Reza sembari melangkah keluar meninggalkan ruang rapat komisi.
Sikap Reza ini disesalkan sejumlah anggota komisi III. "Kita tidak boleh alergi dengan kritikan. Seharusnya, kita sebagai kaum intelektual harus bisa menahan emosi. Anggota (DPR) kan hanya mengklarifikasi apa yang dilihat, didengar dan dibaca. Itu semua kita kumpulkan sebagai fakta dan perlu diklarifikasikan," ujar Trimedya menutup RDPU.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang