Pokoknya, Krakatau Steel Dijual!

Kompas.com - 26/05/2008, 15:20 WIB

JAKARTA, SENIN - Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sofyan A Djalil mengatakan, PT Krakatau Steel (KS) harus diprivatisasi tahun ini apa pun keputusannya, baik melalui strategic sales (penjualan strategis) maupun Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana.
    
"Harus tahun ini (diprivatisasi) apa pun keputusannya," kata Sofyan Djalil, di Jakarta, Senin (26/5), sebagaimana dikutip dari Antara, Senin (26/5)  di sela-sela Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI.
    
Menurut dia, kalau untuk sekadar meningkatkan produktivitas dan menyesuaikan hulu hilirnya, KS tidak membutuhkan dana terlalu besar atau hanya sekitar 400 juta dollar AS.
    
Namun, bila KS ingin maju lebih baik lagi, BUMN ini membutuhkan investasi setidaknya dua miliar dollar AS untuk peningkatan produksi hingga lima juta ton baja. "Itu semua akan dibicarakan dengan DPR," kata Sofyan.
    
Terkait kemungkinan dilakukan privatisasi carry over untuk 2009, Sofyan berpendapat semakin lama mengabaikan KS, hal ini semakin menjadi masalah sebab kebutuhan baja Indonesia makin meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. "Sekarang KS memang untung karena harga baja sedang tinggi dan KS bisa membeli bahan baku dengan harga murah. Namun kita tidak tahu besok akan seperti apa," katanya.
    
Lebih lanjut, Sofyan mengatakan akan mendukung hal apa pun asal bisa memajukan dan terbaik bagi KS. "Pokoknya semua opsi kita akan lakukan secara transparan, untuk strategic sales siapa yang menawar paling mahal kita akan buka. Itu misal DPR setuju. Pokoknya tender terbuka," katanya.
    
Menteri menekankan dirinya tidak pro-strategic sales ataupun pro-IPO tetapi lebih kepada apa yang terbaik bagi KS.
    
Hingga kini telah ada setidaknya empat investor asing yang menyatakan minatnya untuk bekerja sama dengan KS. Dua di antaranya yaitu Anchor-Mittal dan BlueScope telah mempresentasikan proposalnya di hadapan Meneg BUMN dan direksi KS. "Posco juga sudah mengirimkan surat dua hari lalu yang menyatakan minatnya untuk bekerja sama dengan KS," katanya.
    
Pihaknya menekankan agar tidak ada kecurigaan apapun terkait rencana privatisasi KS karena segala sesuatunya akan dilakukan secara transparan. "Tidak boleh ada curiga-curiga, apalagi sekarang sudah ada KPK dan nanti akan kita lakukan semuanya dengan transparan," katanya.
    
Pihak Kementerian BUMN hingga kini juga masih mempertimbangkan dua opsi privatisasi untuk KS yaitu IPO dan strategic sales. Menurut dia, IPO cenderung kurang menguntungkan karena pasar modal sedang lesu sedangkan opsi strategic sales memiliki ekspektasi jangka panjang yang lebih baik.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau