BREBES, SENIN-Delapan nelayan asal Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah hilang saat mencari ikan di perairan Laut Jawa. Mereka terdiri dari nahkoda kapal, Samsuri (22) dan tujuh anak buah kapal (ABK), yaitu Supyan (35), Sodikin (17), Puroman (17), Jamat (17), Kamal (17), Takroni (17), dan Yanto (20). Hingga Senin (26/5), keberadaan mereka belum diketahui.
Delapan nelayan tersebut melaut menggunakan 'KM Putra' jenis gardan, milik Sujin (35), yang juga ayah Samsuri. Menurut Sujin, kapal yang dikemudikan anaknya berangkat dari pelabuhan Kluwut pada Kamis tanggal 8 Mei. Biasanya, mereka melaut di sekitar perai ran Losari Brebes, untuk jangka waktu empat hari. Perbekalan yang dibawa juga hanya cukup untuk jangka waktu tersebut.
Namun hingga hari Senin, para nelayan tersebut belum kembali ke Pelabuhan Kluwut. Sujin juga mengaku kehilangan kontak dengan kapal tersebut. Padahal biasanya, apabila singgah ke pelabuhan lain, mereka pasti memberi kabar kepadanya.
Hingga saat ini, ia mengaku belum mengetahui penyebab hilangnya KM Putra. Selama bulan Mei ini, cuaca di laut relatif baik dan aman untuk pelayaran. Ia sudah melaporkan kejadian itu ke syahbandar. Pencarian juga sudah dilakukan oleh para nelayan dengan me nggunakan tiga kapal, namun belum membuahkan hasil.
Ketua Nelayan Pelabuhan Kluwut, Damin mengatakan, peristiwa itu merupakan yang kedua kalinya dialami nelayan Desa Kluwut. Pada tahun 2000, enam nelayan Desa Kluwut juga hilang, dan hingga saat ini belum ditemukan. Menurut dia, upaya pencarian sudah dilakukan oleh keluarga korban dan para nelayan lainnya. Pencarian dilakukan hingga perairan Cirebon, Indramayu, dan Tegal.
Komandan Pos Angkatan Laut Kluwut, Sersan Mayor Untung Subiyakto mengatakan, pencarian delapan nelayan yang hilang sudah dilakukan dengan menggunakan perahu karet. Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan polisi air, syahbandar, dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Brebes untuk ditindaklanjuti ke HNSI-HNSI di daerah lain. Penyisiran dilakukan di sepanjang perairan Cirebon hingga Pemalang.
Ia juga sudah melaporkan kasus itu ke Pangkalan Angkatan Laut Tegal. Hingga saat ini, pencarian juga sudah dilakukan dengan menggunakan Kapal Angkatan Laut Maribaya dan Kaligung. Meskipun demikian, belum ditemukan tanda-tanda kapal tenggelam, seperti pecahan kayu. Menurut Untung, hilangnya KM Putra diduga akibat kapal itu pecah, karena kondisi kayu kapal sudah lapuk. (WIE)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang