Delapan Nelayan Brebes Hilang di Laut

Kompas.com - 26/05/2008, 17:54 WIB

BREBES, SENIN-Delapan nelayan asal Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah hilang saat mencari ikan di perairan Laut Jawa. Mereka terdiri dari nahkoda kapal, Samsuri (22) dan tujuh anak buah kapal (ABK), yaitu Supyan (35), Sodikin (17), Puroman (17), Jamat (17), Kamal (17), Takroni (17), dan Yanto (20). Hingga Senin (26/5), keberadaan mereka belum diketahui.

Delapan nelayan tersebut melaut menggunakan 'KM Putra' jenis gardan, milik Sujin (35), yang juga ayah Samsuri. Menurut Sujin, kapal yang dikemudikan anaknya berangkat dari pelabuhan Kluwut pada Kamis tanggal 8 Mei. Biasanya, mereka melaut di sekitar perai ran Losari Brebes, untuk jangka waktu empat hari. Perbekalan yang dibawa juga hanya cukup untuk jangka waktu tersebut.

Namun hingga hari Senin, para nelayan tersebut belum kembali ke Pelabuhan Kluwut. Sujin juga mengaku kehilangan kontak dengan kapal tersebut. Padahal biasanya, apabila singgah ke pelabuhan lain, mereka pasti memberi kabar kepadanya.

Hingga saat ini, ia mengaku belum mengetahui penyebab hilangnya KM Putra. Selama bulan Mei ini, cuaca di laut relatif baik dan aman untuk pelayaran. Ia sudah melaporkan kejadian itu ke syahbandar. Pencarian juga sudah dilakukan oleh para nelayan dengan me nggunakan tiga kapal, namun belum membuahkan hasil.

Ketua Nelayan Pelabuhan Kluwut, Damin mengatakan, peristiwa itu merupakan yang kedua kalinya dialami nelayan Desa Kluwut. Pada tahun 2000, enam nelayan Desa Kluwut juga hilang, dan hingga saat ini belum ditemukan. Menurut dia, upaya pencarian sudah dilakukan oleh keluarga korban dan para nelayan lainnya. Pencarian dilakukan hingga perairan Cirebon, Indramayu, dan Tegal.

Komandan Pos Angkatan Laut Kluwut, Sersan Mayor Untung Subiyakto mengatakan, pencarian delapan nelayan yang hilang sudah dilakukan dengan menggunakan perahu karet. Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan polisi air, syahbandar, dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Brebes untuk ditindaklanjuti ke HNSI-HNSI di daerah lain. Penyisiran dilakukan di sepanjang perairan Cirebon hingga Pemalang.

Ia juga sudah melaporkan kasus itu ke Pangkalan Angkatan Laut Tegal. Hingga saat ini, pencarian juga sudah dilakukan dengan menggunakan Kapal Angkatan Laut Maribaya dan Kaligung. Meskipun demikian, belum ditemukan tanda-tanda kapal tenggelam, seperti pecahan kayu. Menurut Untung, hilangnya KM Putra diduga akibat kapal itu pecah, karena kondisi kayu kapal sudah lapuk. (WIE)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau