Disetrum Agar Sehat

Kompas.com - 26/05/2008, 18:35 WIB

DI sejumlah negara industri, sebagian masyarakat ternyata memiliki praktik dan produk yang membuktikan keselamatan dan efisiensi dari sesuatu yang sederhana bagi kesehatannya dalam bentuk terapi komplementer dan alternatif. Terapi ini telah berkembang pesat di dunia, termasuk di Indonesia.

Salah satu terapi yang digunakan adalah alat beda potensial listrik pada manusia sebagai mahluk bioelektromagnetik. Terapi ini telah banyak digunakan di Jepang sebagai upaya pencegahan terjadinya gangguan sirkulasi daerah dan membantu mengatasi beberapa masalah kesehatan di antaranya sakit kepala dan insomnia.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Laboratorium Biofisika atau Pengobatan Tradisional (Batra) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Airlangga, sebagaimana dipaparkan Guru Besar F-MIPA Universitas Airlangga, Prof. Dr. Ir. Suhariningsih dalam jumpa pers, Senin (26/5), di Jakarta, alat ini secara kualitatif memancarkan ion negatif yang mengakibatkan perubahan komposisi udara di atas permukaan matras.

Melalui uji pancaran infra merah dan pancaran ion negatif dengan menggunakan alat metrologic photometer serta digital capacitance pada sejumlah titik pengamatan berdasarkan konstruksi atau jahitan matras. Ion negatif merupakan energi kehidupan dan punya kemampuan membersihkan darah. Ion ini memiliki banyak manfaat antara lain, menurunkan level serotonin (sejenis hormon saraf yang bersifat depresan dan menimbulkan penyempitan pembuluh darah) dalam darah.

Sejumlah manfaat lain adalah, menetralkan superoksida (zat yang berfungsi untuk membunuh mikroorganisme dalam tubuh), mensterilisasi virus dan bakteri dalam tubuh, mengurangi penyakit pernapasan, melebarkan saluran pernapasan, men jaga peredaran darah normal. Selain itu, ion negatif dapat mengoptimalkan kemampuan sel menyerap dan memanfaatkan oksigen serta mengaktifkan pembaharuan sel dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Penelitian itu juga bertujuan mengetahui efek akut dan kronis pengobatan alat terapi beda potensial listrik berfrekuensi tinggi (30.000 hertz) yang menghasilkan ion negatif dan sinar infra merah gelombang jauh melalui teknologi tourmaline dan lonwave yang terkandung di dalamnya, serta teknologi saniter pada kain dan polyuretan wave pada busanya. Penelitian ini berhasil membuktikan terjadi perbaikan kadar glukosa darah, perbaikan aliran darah , serta komposisi darah dan profil lipid darah pada 30 penderita hipertensi dan diabetes mellitus yang jadi objek penelitian.

Ketua Umum Perhimpunan Kedokteran Komplementer-Alternatif Indonesia (PKKAI) berharap makin banyak perusahaan medik atau peralatan kesehatan yang dapat bekerja sama secara berkesinambungan. Hal ini disertai pengawasan terhadap praktik dan perkembangan CAM di Indonesia dapat dilaksanakan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1109 Tahun 2007 tentang praktik pengobatan komplementer dan alternatif dalam pelayanan kesehatan formal.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau