Agar BLT Lancar, Pemerintah Perlu Beri Pengertian

Kompas.com - 26/05/2008, 21:52 WIB

BANDUNG, SENIN - Pemerintah berharap, bantuan langsung tunai atau BLT dalam jangka pendek mampu menahan turunnya tingkat konsumsi keluarga miskin akibat kenaikan harga bahan bakar minyak. Agar pemanfaatan uang BLT dialokasikan secara benar, pemerintah perlu memberikan pengertian dan himbauan kepada masyarakat.

Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta mengatakan, pada prinsipnya kebijakan pemerintah memberikan bantuan di saat kenaikan bahan bakar minyak (BBM) tepat. Namun, keputusan pemberian bantuan berupa uang tidak akan menyelesaikan permasalahan ekonomi rakyat.

Karena berupa uang tunai, maka dana BLT memiliki tingkat likuiditas tinggi. Siapa saja dapat memanfaatkan uang tersebut untuk keperluan apa pun. "Jika sekedar untuk konsumsi, dana BLT sebesar Rp 100.000 per bulan hanya akan berfungsi sebagai penyambung kebutuhan saja, " kata Acuviarta, Senin (26/5) di Bandung .

Bagi Acuviarta, bantuan yang bermanfaat haruslah memiliki efek berantai dan nilai tambah sehingga mampu meningkatkan produktifitas masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi berbagai macam program yang mampu memberdayak an ekonomi masyarakat.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengungkapkan, pemberian BLT merupakan bantuan yang bersifat sementara. Selanjutnya, pemerintah akan mempersiapkan program jaring pengaman sosial yang lebih permanen.

Menurut Mari Elka, pemerintah menerapkan tiga kluster program pengentasan kemiskinan, yaitu program kluster satu, seperti BLT, Raskin, Askeskin, dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Selanjutnya, pemerintah menyediakan kluster kedua yang berisi program pemberdayaan masyarakat, dan kluster ketiga yaitu pemberdayaan usaha mikro dan kecil (UMK).

Program BLT sebagai program pengentasan kemiskinan diperkuat dengan beberapa program lain, seperti Raskin, Askeskin, dan Bantuan Operasional Sekolah atua BOS, kata Mari Elka.

Untuk memberdayaan ekonomi masyarakat, pemerintah melalui Program Nasional Pengembangan Masyarakat memberikan bantuan langsung sebesar Rp 3 miliar per kecamatan per tahun. Selain itu, pada kluster ketiga, pemerintah juga memberikan bantuan kredit usaha rakyat kepada usaha mikro dan kecil (UMK) sebesar Rp 5 juta ke bawah.

Sebanyak 5.535 RTS

Kepala Humas Kantor Pos Bandung Suyud Suhendar mengatakan, sampai dengan hari ketiga, penyaluran BLT di Kota Bandung baru mencapai sekitar enam persen atau 5.535 rumah tangga sasaran (RTS) dari total 84.287 RTS. Sejak hari pertama, Sabtu (24/5), penyaluran BLT di Kota Bandung terus bertambah dari 1.052 RTS pada hari pertama, 1.865 RTS pada hari kedua, dan 2.618 RTS pada hari ketiga.

Menurut Suyud, jika Minggu (25/5) kemarin, pembayaran BLT berlangsung di sembilan kantor pos cabang, kini pembayaran BLT akan dilayani di 12 kantor pos cabang. Sebenarnya ada 37 kantor pos cabang yang siap melayani pendistribusian BLT, namun banyak lurah, RT, atau RW yang belum selesai melakukan verifikasi penerima BLT, ujarnya.

Selain melayani pembayaran di kantor pos, pihak Kantor Pos Bandung juga melayani pembayaran BLT kepada warga yang sedang sakit atau jompo. "Kepada masyarakat penerima BLT yang sakit atau jompo, kami menyediakan nomor layanan (022) 4207081, " jelas Suyud.

Direktur Keuangan PT Pos Indonesia Hani Johanis menambahkan, PT Pos akan berusaha semaksimal mungkin menyalurkan BLT kepada masyarakat. Selama ini, tidak ada kendala dari PT Pos dalam pendistribusian, karena waktu penerimaan setiap RTS rata-rata hanya dua menit. "Kami juga akan melayani pembayaran pada hari Minggu, " ucapnya.

(A01)  

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau