Wapres Yakinkan 1.000 Pengusaha Untuk Investasi

Kompas.com - 27/05/2008, 11:12 WIB

Laporan Wartawan Kompas, Suhartono

JAKARTA,SELASA - Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla meyakinkan sekitar 1.000 pengusaha dalam dan luar negeri untuk menanamkan investasi di Indonesia di berbagai bidang infrastruktur dan perkebunan. Para pengusaha diyakinkan bahwa investasi di Indonesia akan lebih membuka peluang keuntungan yaitu dengan adanya berbagai langkah yang dijanjikan akan dilakukan. Yang diyakinkan kepada para pengusaha dalam dan luar negeri itu di antaranya mulai dari penyederhanaan regulasi dan perizinan, serta perbaikan infrastruktur. Juga perbaikan birokarasi dan pemberantasan korupsi.

Hal itu diungkapkan Wapres Kalla saat berbicara di hadapan sekitar 1.000 investor asal 20 negara di Indonesian Regional Investmen Forum (IRIF) 2008 di sebuah hotel berbintang di Jakarta, Selasa (27/5) pagi. Dalam pertemuan tersebut, Wapres Kalla didampingi sejumlah menteri kabinet dan pejabat lainnya di antaranya Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wacik, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Ginandjar Kartasasmita, dan Kepala BKPM Muhammad Luthfi. IRIF yang tercatat kedua dilakukan setelah pertemuan Indonesian Investor Forum tahun 2006, kali ini bertema Real Projects for Real Investors.

Pertemuan kali ini secara khusus dihadiri mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, mantan Wakil PM Malaysia dan yang juga Komisaris Utama Sima Darby Tun Musa Hitam. Serta sejumlah kepala daerah. "Kami terus melakukan perbaikan di banyak hal. Perizinan terus bakan kamin sederhanakan. Infrastruktur akan terus diperbaiki. Birokrasi dan masalah korupsi, memag masih terjadi. Akan tetapi, kami tegaskan bahwa kami terus bekerja keras untuk memperbaiki itu semua. Mana di negara Asia yang begitu banyak melakukan penangkapan mulai dari mantan menteri, gubernur sampai jenderal?" papar Kalla.

Kalla juga optimistis di tengah-tengah kondisi perekonomian sekarang ini, pertumbuhan ekonomi tiga tahun mendatang bisa mencapai 9 persen dari awalnya sekarang 6 persen. "Dalam dua tahun saya nyatakan pemerintah bisa menyelesaikan masalah seperti beban subsidi anggaran yang mencapai 43 persen hanya untuk subsidi pangan dan energi bisa dikurangi dengan dua cara, yaitu konversi minyak tanah dengan gas serta konversi BBM dengan batubara untuk proyek listrik," tambah Kalla.

Indonesia, lanjut Kalla, sekarang ini terbuka peluang untuk para pemilik modal untuk berusaha. "Memang, tidak uang yang dikeluarkan untuk meraih keuntungan, " kata Kalla. Sebagaimana diberitakan, melalui pertemuan tersebut, pemerintah Indonesia menawarkan peluang investasi kepada investor dalam maupun luar negeri senilai 19 miliar dollar AS atau equivalen sebesar Rp 175 triliun atas 200 proyek infrastruktur di antaranya berupa penyulingan minyak Bojonegoro, perkebunan, jembatan Penajam-Balikpapan, Jembatan Batam-Bintan dan terminal agribisnis Balaraja.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau