JAKARTA, RABU - Anda ingin punya mobil baru, cepat beli sekarang. Jangan tunda sampai Juli atau kasak-kusuk, apalagi ke pedagang mobil bekas. Dari berbagai sumber para Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) menyebutkan kalau mereka masih menunggu dan melihat perkembangan dari berbagai sisi.
Seperti diungkapkan Endro Nugroho, Marketing Director PT Indomobil Niaga International (IMNI), ATPM Suzuki. "Untuk waktu dekat ini kami belum ada rencana menaikkan harga," tegasnya. Paling tidak, lanjut Endro sampai bulan depan masih harga normal. Sementara Nissan Motor Indonesia juga belum menaikkan harga. "Masih lirik kanan dan kiri dulu," ujar Deputy Senior Marketing NMI.
Hal senada juga disampaikan Yongkie D. Sugiarto, Presdir PT Hyundai Mobil Indonesia yang saat dikontak sedang berada di Malaysia. Kenaikkan harga mobil, katanya bukan semata-mata dipicu oleh BBM. Banyak faktor lain yang ikut mendukung melonjaknya harga kendaraan.
Faktor yang dimaksud Yongkie, di antaranya yang berkaitan dengan suplayernya. Karena, tambahnya, mereka (suplayer) menaikkan harga berkaitan dengan transportasi pengiriman. Belum lagi material.
Material di sini, dijelaskan oleh Gunadi Sindhuwinata seperti bahan plastik dan steel. "Bahan-bahan itu harganya sudah bergerak naik sebelum BBM. Jadi kalau pertimbangan menaikkan harga kendaraan ditinjau dari sudut itu belum tepat," jelas Presdir PT Indomobil Sukses International saat peluncuran Suzuki SX-4 CKD di Jakarta, pertengahan Mei lalu.
Sektor material memang tidak bisa dihindari. Sebab, jelas Endro, bila material aja naik, ikut berimbas pada produksi komponen. Dari sektor eksternal, Endro melihat kenaikkan bisa juga dipicu oleh leasing. "Sebab, prediksinya sebagian besar pembeli (hampir 70%) menggunkan leasing," katanya.
Jadi, pihaknya sekarang ini masih menggodok soal harga dan melihat sampai bulan depan. "Kita melihat bagaimana purschasing powernya." Hal senada juga disampai Yongkie ketika didesak prediksinya harga mobil bakal naik. "Naik pasti, paling-paling berkisar 2% sampai 5%. Kita melihat pesaing juga. Kalau mereka naiknya 10%, nggak mungkin kita naik 30%," tutup Yongkie. SBT
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang