JAKARTA,RABU - Situasi sulit yang mendera perbankan nasional saat ini dinilai bisa mempercepat proses konsolidasi perbankan. Bank yang tidak memiliki fundamental kuat akan sulit bertahan di tengah meningkatnya suku bunga, inflasi, ketidakpastian pasar keuangan, dan menurunnya laju permintaan kredit.
Ekonom BNI, Ryan Kiryanto, Selasa (27/5) di Jakarta, menjelaskan, jika situasi makin memburuk, misalnya harga minyak terus naik hingga 200 dollar AS per barrel, industri perbankan harus mencari cara untuk bertahan hidup. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah bergabung dengan bank lain, terutama bagi bank yang modalnya minim. ”Dengan aksi seperti ini, bank hasil merger "diharapkan memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap guncangan," saran Ryan.
Kondisi sulit yang terjadi saat ini berpotensi menekan bank dari berbagai penjuru, seperti meningkatnya kredit bermasalah (NPL), tergerusnya laba dan modal, serta membengkaknya biaya operasional.
Masih cukup kuat
Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad juga mengatakan, kondisi sulit memang bisa mendorong bank saling merger. "Namun, kondisi perbankan sebenarnya masih cukup kuat menghadapi situasi akhir-akhir ini. Pertumbuhan kredit juga diperkirakan masih cukup kuat. Secara keseluruhan, kinerja perbankan Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan industri perbankan negara tetangga," ujarnya.
Konsolidasi melalui merger sebenarnya merupakan salah satu program dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Untuk mendorong merger, BI mensyaratkan mulai tahun 2011 semua bank umum harus memiliki modal minimum Rp 100 miliar. Ryan menambahkan, selain merger, bank juga bisa melakukan efisiensi dan aliansi strategis dengan pihak lain untuk meningkatkan daya tahan dan daya saing. Misalnya, meningkatkan sinergi dengan asuransi atau dengan lembaga keuangan nonbank terkait dengan penyaluran kredit. (FAJ)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang