Mahasiswa Unas Merasa Ada yang Susupi Aksi Mereka

Kompas.com - 30/05/2008, 00:31 WIB

JAKARTA,JUMAT - Hasil pemeriksaan terhadap para mahasiswa Universitas Nasional (Unas) Jakarta memperkuat dugaan polisi selama ini bahwa aksi mereka disusupi oleh kepentingan lain. Beberapa mahasiswa yang diperiksa polisi juga mengungkapkan adanya dugaan itu.

"Ada beberapa pengakuan yang memperkuat dugaan kita. Diantara mahasiswa yang kita periksa juga mengungkapkan kecurigaan kesana. Timbul kecurigaan diantara mereka," ungkap Kadiv Humas Mabes Polri Abubakar Nataprawira, Kamis (29/5).

Hanya saja pihak mana yang menyusupi aksi mahasiswa itu, polisi belum dapat memastikan. Polisi masih berupaya menyusurinya. "Analisisa kita, ada tiga jenis aksi mahasiswa. Jadi ada yang murni, ada yang disusupi atau ditunggangi, dan yang ketiga, aksi berdasarkan pesanan pihak tertentu," katanya.

Aksi mahasiswa yang murni, dipastikan masih taat pada ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Sementara aksi karena pesanan, itu tergantung pesanannya. Sedang aksi yang ditunggangi, ini justru yang tidak tahu. Dari niatnya mereka murni untuk perjuangan yang idealis. Tapi pada prakteknya, mereka tidak sadar telah dibelokkan dari niat awalnya.

Dalam kesempatan tersebut Abubakar juga mengungkapkan banyaknya pihak-pihak yang tidak menghendaki keamanan di Indonesia terjaga.Mereka ingin membenturkan mahasiswa dengan polisi yang menjaga keamanan. Tujuannya, agar legitimasi Polri dalam menjaga keamanan diragukan dan kemudian tidak bisa lagi mengendalikan keamanan dengan baik.

"Sebagai salah satu bukti adalah penyebaran SMS-SMS yang provokatif dan menyesatkan. Malam- malam ada SMS yang menyebutkan akan terjadi demo besar-besaran anarkis di berbagai tempat. Seperti hari ini, Kamis (29/5) disebar isu SMS Jakarta bakal dikepung demo anarkis dimana-mana. Sumbernya menyebutkan intelijen Polri. Mana ada intelijen Polri menyebarkan info seperti itu. Dan buktinya, tidak ada demo anarkis," jelasnya.

Untuk itu Abubakar meminta masyarakat agar tidak termakan isu-isu yang menyesatkan. Masyarakat diminta beraktifitas seperti biasa. Isu-isu itu sengaja di sebar untuk meneror masyarakat. "Tujuanya untuk menciptakan teror, menyebar kecemasan, sehingga tercipta instabilitas keamanan," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau