Duh, Makin Banyak Bayi Lahir Prematur

Kompas.com - 30/05/2008, 18:18 WIB

BANTUL, JUMAT - Kasus kelahiran bayi dengan berat badan di bawah normal terus meningkat. Saat ini ada sekitar 33 bayi dengan berat dibawah 2,5 kilogram yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Panembahan Senopati Bantul. Minimnya kesadaran ibu untuk memeriksakan kehamilan menjadi salah satu penyebabnya.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Rekam Medis RSUD Panembahan Senopati drg Rini Setyaningsih, Jumat (30/5) mengatakan, berat bayi terendah yang pernah dirawat adalah 1,25 Kg. Jumlahnya bayi dengan berat badan minim terus meningkat. "Kami pun terpaksa menambah box bayi dari 14 box menjadi 40 box," katanya.

Bayi-bayi dengan berat minim tersebut biasanya lahir prematur atau kurang dari sembilan bulan. Selain berat badan yang tidak memadai, bayi prematur biasanya juga rawan penyakit sesak nafas. "Sebagian besar pasien berasal dari keluarga miskin karena mereka menggunakan kartu Jamkesmas," katanya.

Di ruang khusus perinatal, bayi-bayi ditaruh dalam ruangan khusus dengan suhu lebih hangat. Beberapa diantaranya ditaruh di inkubator dan diberi infus. "Mereka belum bisa ditaruh dalam ruangan terbuka karena pasti kedinginan. Untuk menghangatkan, kami memberikan penerangan ekstra," kata Budi Astuti, koordinator perawat di bagian perinatal.

Budi menambahkan, karena butuh suhu hangat para ibu juga tidak bisa menyusui langsung. Mereka harus menyedot ASI-nya terlebih dahulu, baru kemudian diberikan ke bayi lewat botol.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Bantul, dr Siti Noor Zaenab Syech Said, untuk memantau berat bayi selama di kandungan ibu hamil paling lambat pada usia kandungan 3 bulan sudah harus melakukan pemeriksaan. Selama 9 bulan mengandung, disarankan periksa minimal 4 kali.

Kegiatan pemeriksaan tersebut bisa diperoleh secara cuma-cuma melalui puskesmas karena Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul sudah menggratiskan biaya pemeriksaan bagi ibu hamil sejak tahun 2003. "Dalam pemeriksaan ibu hamil akan mendapatkan vitamin, penambah darah serta suntikan anti tetanus atau TT," katanya.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau