YOGYAKARTA, JUMAT - Kebiasaan manusia adalah berbelanja barang atau sesuatu yang bukan kebutuhannya. Ini membuat pengeluaran rumah tangga menjadi membengkak, bahkan minus. Kalau tak segera diubah, keuangan bisa tambah parah selepas harga bahan bakar minyak naik.
Membeli barang sesuai kebutuhan memang sulit di zaman sekarang, kata Aidil Akbar Madjid, pakar ekonomi mikro dan keluarga, dalam talkshow Mengatur Keuangan Keluarga Pasca Kenaikan Harga BBM, Jumat (30/5), di gedung Jogja Expo Center (JEC).
Masyarakat masih membeli barang berdasarkan keinginan tanpa melihat kebutuhan. Barang atau sesuatu yang dikemas dengan kata promo , diskon, hingga memanjakan mata, masih sukses mengacaukan keuangan. Tak hanya orang yang sudah berkeluarga, tapi juga yang belum menikah.
Idealnya, sisihkan penghasilan terlebih dulu untuk ivestasi. Baru sesudahnya uang itu untuk pos-pos pengeluaran. Ini akan membuat pengeluaran cukup teredam. Sementara, di sisi lain, ada investasi yang kita pegang di tangan, ujarnya.
Beberapa bentuk investasi itu adalah membeli saham, obligasi, atau emas. Namun, di level bawah, kalau itu masih sulit, cukuplah membeli apa yang dibutuhkan dan mencari peluang usaha. Meminjam uang ke bank untuk modal usaha, juga tak mengapa
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang