Pascakenaikan Harga BBM, Kebiasaan Berbelanja Harus Cepat Diubah

Kompas.com - 30/05/2008, 21:54 WIB

YOGYAKARTA, JUMAT - Kebiasaan manusia adalah berbelanja barang atau sesuatu yang bukan kebutuhannya. Ini membuat pengeluaran rumah tangga menjadi membengkak, bahkan minus. Kalau tak segera diubah, keuangan bisa tambah parah selepas harga bahan bakar minyak naik.

Membeli barang sesuai kebutuhan memang sulit di zaman sekarang, kata Aidil Akbar Madjid, pakar ekonomi mikro dan keluarga, dalam talkshow Mengatur Keuangan Keluarga Pasca Kenaikan Harga BBM, Jumat (30/5), di gedung Jogja Expo Center (JEC).

Masyarakat masih membeli barang berdasarkan keinginan tanpa melihat kebutuhan. Barang atau sesuatu yang dikemas dengan kata promo , diskon, hingga memanjakan mata, masih sukses mengacaukan keuangan. Tak hanya orang yang sudah berkeluarga, tapi juga yang belum menikah.

Idealnya, sisihkan penghasilan terlebih dulu untuk ivestasi. Baru sesudahnya uang itu untuk pos-pos pengeluaran. Ini akan membuat pengeluaran cukup teredam. Sementara, di sisi lain, ada investasi yang kita pegang di tangan, ujarnya.

Beberapa bentuk investasi itu adalah membeli saham, obligasi, atau emas. Namun, di level bawah, kalau itu masih sulit, cukuplah membeli apa yang dibutuhkan dan mencari peluang usaha. Meminjam uang ke bank untuk modal usaha, juga tak mengapa

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau