Akbar Sentil Kepemimpinan JK di Golkar

Kompas.com - 31/05/2008, 17:04 WIB

Laporan wartawan Kompas Anthony Lee

SALATIGA, SABTU- Mantan Ketua Umum Partai Golongan Karya Akbar Tandjung terus mendorong agar Partai Golkar mengadakan konvensi untuk menjaring calon Presiden yang akan diusung pada Pemilihan Presiden atau Pilpres 2009. Akbar juga kembali menegaskan bahwa dirinya masih berupaya maju dalam Pilpres melalui Partai Golkar, tetapi tidak menutup kemungkinan maju melalui mekanisme lain.

Penegasan itu disampaikan di sela-sela Orasi Ilmiah Peran dan Tantangan Pemuda dalam Pembangunan Bangsa menuju Era Globalisasi di Kampus Universitas Satya Wacana Salatiga, Sabtu (31/5). Dalam orasi tersebut, Akbar berkali-kali menegaskan niatnya untuk maju dalam Pilpres 2009, meski belum memiliki kendaraan politik.

"Saya terpanggil untuk maju dalam pemilihan presiden 2009. Sebagai kader Golkar, jika peluang yang ada terbuka, saya akan ikut seleksi. Kalau tidak ada saya akan melihat peluang yang lain," kata Akbar.

Menurut dia, meski Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla sudah sempat mengeluarkan pendapat untuk meniadakan konvensi, peluang ini masih terbuka. Hal ini masih dapat dibahas melalui mekanisme Rapat Pimpinan Partai Golkar. Pemilihan calon melalui mekanisme konvensi merupakan inovasi Partai Golkar dan sudah ada suara dari beberapa pengurus di daerah yang menginginkan mekanisme ini tetap ada.

Dalam orasi tersebut, Akbar beberapa kali memberikan sinyalemen kedekatannya dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri. Namun, saat ditanya soal kemungkinan akan maju bersama Megawati, Akbar mengatakan belum ada pembicaraan resmi ke arah tersebut, karena PDIP akan mencari pasangan bagi Megawati melalui survei.

Akbar juga sempat beberapa kali menyentil kepemimpinan Jusuf Kalla di Partai Golkar. Menurut dia, selama Jusuf Kalla memimpin, calon gubernur maupun wakil gubernur yang diusung Partai Golkar berkali-kali kalah. Dia juga sempat membandingkan kepemimpinan Golkar kini dengan ketika masih dipimpinnya.

Pada awal reformasi, lanjutnya, Partai Golkar menjadi sasaran hujatan karena dianggap menjadi pendukung rezim orde baru. Meski demikian, Akbar bisa membawa Partai Golkar keluar dari krisis dan menduduki peringkat dua pada Pemilu 1999. Bahkan, pada pemilu tahun 2004, Golkar bisa menduduki peringkat pertama dalam pengumpulan suara.

"Sekarang merupakan tantangan bagi JK, nanti bisa dilihat apakah bisa mempertahankan pencapaian tahun 2004 lalu. Sekarang pilgub, Golkar banyak yang gagal," kata Akbar Tandjung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau