Pemerintah Kaji Dampak Program Kartu Pintar

Kompas.com - 01/06/2008, 23:39 WIB

JAKARTA,MINGGU - Pemerintah membantah bila penerapan smart card atau kartu pintar batal dilakukan seiring kebijakan pemerintah yang telah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 30 persen. Pemerintah saat ini tengah mengkaji seberapa besar dampak program kartu pintar dalam pembatasan BBM berjenis premium dan solar bersubsidi. "Program ini masih terus dikaji, dan mau diujicoba dulu," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta Minggu (1/6).

Program kartu pintar sempat maju-mundur. Kebijakan pemerintah pusat untuk menjalankan program kartu pintar BBM transportasi dalam ujicoba di beberapa daerah mendapat penolakan. Batam, dan Denpasar sebagai wilayah ujicoba ternyata menolakan ujicoba kartu pintar tersebut. "Di dua daerah itu tidak berani. Artinya, tidak memberikan ijin. Mungkin juga khawatir ada yang tidak-tidak," paparnya.

Sontak program yang sebenarnya belum mendapatkan anggaran dalam APBN-P 2008 ini menjadi linglung kembali akibat penolakan tersebut. Program pemerintah untuk mengurangi beban subsidi BBM dalam anggaran negara pun berada di persimpangan jalan.

Sebelumnya, pemerintah mengeluarkan empat skenario dalam program kartu pintar ini. Skenario pertama, kartu pintar akan diiberikan untuk semua kendaraan. Kedua, kartu pintar untuk semua kendaraan, kecuali yang tahun pembuatannya di atas 2005 dengan kapasitas silinder (cc) di atas 2000 untuk premium dan 2.500 cc untuk kendaraan berbahan bakar solar. Ketiga, kartu pintar untuk kendaraan umum dan roda dua saja. Dan keempat, kartu pintar hanya untuk kendaraan umum.

Hingga kini, pemerintah pun belum memastikan skenario mana yang akan diterapkan pada September 2008 mendatang, dimana tahap awalnya akan berlaku di Jawa dan Bali, dan selanjutnya di seluruh Indonesia.(Ade Mayasanto/Persda Network)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau