Warga NU dan FPI Nyaris Bentrok di Cirebon

Kompas.com - 01/06/2008, 23:39 WIB

CIREBON, MINGGU - Puluhan warga Nahdlatul Ulama (NU) terdiri dari unsur PMII dan Anshor, Minggu (1/6) malam merobohkan papan nama Front Pembela Islam (FPI) di Jalan Fatahilah, Gang Dukuh Dalem, Desa Setu Kulon, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
      
Tindakan masa NU dari kalangan muda itu membalas sakit hati warga NU karena anggota Dewan Syuro DPP PKB KH Maman Imanulhaq Faqieh, MA, dari Majalengka menjadi korban pemukulan massa FPI di sekitar Silang Monas, Jakarta.
      
Sebelumnya sejumlah kyai dan ormas Islam lainnya mengadakan pertemuan di Pesantren Kempek Cirebon untuk mengutuk kekerasan yang dilakukan massa FPI terhadap Aliansi Kebangsaan  Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang mengadakan aksi damai di Silang Monas, Jakarta, Minggu siang.
      
Menurut Ketua GMNI Kabupaten Cirebon, Ujang Kusuma Atmawijaya, yang ikut dibelakang rombongan warga NU, aksi serbu Kantor FPI di Cirebon tersebut tidak diagendakan, tetapi spontanitas terjadi saat melihat ada papan nama FPI.
      
"Saya ikut pertemuan di Kempek, tetapi kami membuat pernyataan sendiri yang mengutuk kekerasan massa FPI di Jakarta," katanya yang saat itu tengah berjalan pulang dibelakang rombongan massa NU.
      
Usai pertemuan massa kemudian membubarkan diri, namun sebagian massa yang melintasi Sekretariat FPI Cirebon terpancing melakukan pengrusakan dengan merobohkan papan nama FPI di mulut Gang Dukuh Dalem.
      
Massa sempat berusaha masuk untuk menyerbu Sekretariat FPI, namun Ketua RT 03 Darto segera datang menemui massa yang berkerumun dan menjelaskan bahwa di tempat itu tidak ada Sekretariat FPI, yang ada hanya papan namanya saja. "Tidak ada Kantor FPI di sini, kalau itu hanya papan nama saja," katanya kepada kerumunan massa.
      
Massa akhirnya bergerak ke arah Sumber. Beberapa anggota FPI tanpa atribut mengikuti di belakang rombongan warga NU tersebut.  Menurut Wahyono, salah satu anggota FPI, warga NU masih bergerombol di depan Kantor DPC PKB Kabupaten Cirebon di Kecamatan Watu Belah, sekitar empat kilometer dari Sekretariat FPI Cirebon.
      
Sebagian anggota FPI kemudian berusaha untuk menggalang massa dan bersiap untuk menyerang massa yang berkumpul di depan PKB, namun dicegah Kapolres Cirebon AKBP Edhy Mustofa yang datang ke lokasi kejadian.
      
"Kita jangan dulu menuduh, nanti anggota saya saja yang akan mengecek apakah memang penyerang masih berkerumun di sana.  Kalau main tuduh nanti bisa salah sasaran.  Biarkan kami saja yang mengusut aksi pengrusakan ini," kata Kapolres didepan Ketua FPI Cirebon H Habib Muhamad Husein.
        
Habib Muh Husein kemudian menenangkan massa dan meminta anggota FPI untuk menahan diri karena masalah itu sudah diserahkan kepada kepolisian. "Kita tenang saja dulu di sini karena masalah pengrusakan sudah diserahkan kepada kepolisian," katanya.
      
Beberapa wartawan mencoba mengejar ke Kantor PKB, sebagai tempat yang diduga masih berkerumun para penyerang, namun hanya melihat sekitar delapan orang yang tengah duduk-duduk di depan Kantor PKB yang masih dalam tahap pembangunan.
      
Ketika ditanya apakah ada konsentrasi massa beberapa puluh menit sebelumnya, mereka yang sebagian warga setempat mengaku tidak tahu menahu adanya kerumunan massa.  "Tidak ada kerumunan massa, apa-apa," kata seorang pemuda yang juga penjaga Kantor DPC PKB.
      
Sampai berita ini diturunkan, puluhan petugas kepolisian masih berjaga-jaga di lokasi kejadian, demikian juga ratusan massa FPI masih menjaga Sekretariat FPI Cirebon dengan persenjataan yang sudah disiapkan seperti kayu, dan samurai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau