Rizieq: Presiden Harus Cerdas!

Kompas.com - 02/06/2008, 20:11 WIB

JAKARTA, SENIN - Menanggapi kecaman keras Presiden SBY atas penyerangan  Komando Laskar Islam (KLI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Ketua Front Pembela Islam (FPI), Habib Riziq Shihab, balik berkomentar.

Ia mengatakan, Presiden dan Wakil Presiden harus cerdas dalam menyikapi persoalan Ahmadiyah."Kami menyepakati apa yang disampaikan Presiden dan Wapres bahwa anarkisme tidak boleh ada. Tapi, Presiden harus cerdas dalam menghadapi persoalan ini. Tidak hanya cerdas, tapi juga arif dan cermat. Beliau harus melihat apa akar di balik aksi anarkisme ini. Diantaranya, aksi pendukung Ahmadiyah dilakukan tanpa ijin, mereka membawa senjata api, untuk apa?  Laskar kami emosi karena disebut laskar syetan dan laskar kafir. Kalau Presiden tidak cerdas, hanya memalukan negara kita saja," kata Rizieq, kepada para wartawan di markas FPI, Jakarta, Senin (2/6) malam.

Sementara itu, terkait dengan ditetapkannya 5 orang anggota FPI sebagai tersangka oleh pihak kepolisian, Rizieq mengatakan FPI tidak gentar jika memang akan dilakukan pemeriksaan terhadap anggota laskarnya. Catatannya, tidak hanya dari laskar Islam yang diperiksa. "Pendukung Ahmadiyah juga harus diperiksa. Kalau yang diperiksa hanya laskar saja, saya orang pertama yang menolaknya," ujar Rizieq.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau