Semburan Gas Lapindo Meluas

Kompas.com - 02/06/2008, 20:47 WIB

SIDOARJO, SENIN – Semburan gas mudah terbakar di sekitar luapan lumpur Lapindo kembali muncul di sebuah areal persawahan warga di Desa Wunut, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (2/5). Semburan itu tercatat sebagai semburan ke-90 sekaligus yang terjauh dari pusat semburan lumpur yang berjarak sekitar 1,5 kilometer.

Arifin (35), salah satu warga Desa Wunut yang menggarap lahan sawah di sekitar keluarnya semburan mengatakan munculnya semburan itu baru diketahui warga lima hari lalu. Saat itu, warga sedang membakar jerami kering usai panen padi di lokasi tersebut.

“Kami heran, setelah jerami habis terbakar, apinya kok masih tetap menyala,” ujar Arifin. Setelah diperiksa, ternyata di lokasi itu terdapat rekahan tanah yang diduga sebagai tempat keluarnya gas. Hal itu dibuktikan ketika warga menyulut api di rekahan itu langsung terbakar.

Arifin pun menuturkan keresahannya dan warga sekitar dengan kemunculan semburan di desa mereka itu. Ia takut munculnya semburan itu merupakan tanda-tanda awal desanya akan mengalami nasib serupa dengan Desa Siring Barat yang saat ini muncul puluhan semburan air bercampur gas serta telah menyebabkan rumah warga retak-retak.
Semburan tersebut merupakan semburan gas pertama yang keluar di Desa Wunut yang berjarak 1,5 kilometer arah timur pusat semburan lumpur Lapindo. Desa Wunut merupakan salah satu dari 13 desa yang direncanakan menjadi lokasi relokasi infrastruktur yang rusak akibat lumpur Lapindo.

Kepala Humas Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo Achmad Zulkarnain mengatakan besar kemungkinan semburan itu merupakan perluasan semburan yang dipengaruhi penurunan tanah di pusat semburan lumpur. Namun demikian, Achmad mengatakan karakteristik semburan baru itu tidak berbahaya karena tidak disertai keluarnya air dan material lainnya seperti pasir dan lumpur. “Selain itu, semburan itu juga letaknya jauh dari pemukiman penduduk,” kata Achmad.

Adapun soal kandungan gas di semburan tersebut, Achmad mengatakan angin yang kencang di lokasi itu segera menetralisasi gas yang keluar sehingga konsentrasinya diyakini kecil. Achmad pun menambahkan keluarnya semburan baru di desa itu tidak akan mengubah rencana relokasi infrastruktur yang telah disusun BPLS. “Kami tetap berpegang pada kajian Badan Geologi yang menyatakan wilayah relokasi infrastruktur, termasuk di Desa Wunut, bebas dari pengaruh semburan lumpur Lapindo,” katanya.

Serahkan rumah

Sementara itu, PT Minarak Lapindo Jaya sejak Sabtu (31/6) lalu, telah menyerahkan 11 rumah kepada warga korban lumpur yang memilih sisa ganti rugi berupa rumah di Kahuripan Nirwana Village (KNV), Desa Jati, Kecamatan Sidoarjo.

Vice President PT MLJ Andi Darussalam Tabussala mengatakan 11 rumah tersebut merupakan bagian dari 6.000 unit rumah yang dipesan dari pengembang Wahana Arta Raya bagi korban lumpur yang sebagian besar masih dalam tahap pembangunan. “Seluruh rumah tersebut direncanakan selesai dibangun pada April 2009,” ujarnya.
Lebih jauh, Andi mengatakan akan memfokuskan relokasi di perumahan KNV itu bagi sekitar 4.500 berkas warga korban lumpur yang status kepemilikan tanah dan bangunannya nonsertifikat dan karena itu tidak bisa dibuat akte jual belinya. (A13)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau