PONTIANAK, SELASA- Di tengah kesusahan warga miskin yang terhimpit kenaikan harga kebutuhan pokok, ternyata ada mantan kepala desa yang tega menyelewengkan penyaluran beras bagi masyarakat miskin (raskin). Selasa (3/6), pihak Kepolisian Daerah Kalimantan Barat mengungkap penyelewengan distribusi 15 ton raskin.
Raskin yang seharusnya disalurkan ke tujuh kecamatan di Kabupaten Landak tersebut, oleh tersangka AR yang mantan kepala desa, malah dijual ke pabrik mie.
Kepala Bidang Humas Polda Kalbar Ajun Komisaris Besar Suhadi mengatakan, tersangka awalnya mengaku kalau penjualan raskin tersebut disepakati oleh warga yang seharusnya menerimanya, yakni warga dari Kecamatan Mandor, Pahuman, Darit, Karangan, Sumpak, Ngabang, serta Menjalin. Setelah diselidiki lebih lanjut, tersangka tidak bisa menunjukkan bukti adanya kesepakatan dari warga.
Jika merujuk ketentuan dari pemerintah yang tiap keluarga miskin mendapat jatah 20 kilogram, maka beras 15 ton itu seharusnya disalurkan kepada 750 keluarga miskin.
Tersangka mengambil keuntungan dari beras bersubsidi untuk rakyat miskin itu dengan menjualnya ke pabrik mie seharga Rp 4.850 per kilogram. Padahal beras itu seharusnya dijual ke warga miskin dengan harga Rp 2.500 per kilogram. "Sebelum dijual ke pabrik mie, tersangka sudah mengganti karung beras bersubsidi itu dengan karung baru," kata Suhadi.
Raskin itu saat disita sudah berada di gudang pabrik mie CV Surya Jaya yang berada di Jalan 28 Oktober, Pontianak Utara. Pemilik pabrik, Susanto, masih diperiksa sebagai saksi. Sementara AR yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, minggu ini akan dipanggil untuk menjalani pemeriksaan.
Saat ditanya wartawan, Susanto mengaku tidak mengetahui kalau beras yang dijual oleh AR merupakan raskin. "Saya hanya memesan beras kampung dan membelinya dari AR dengan harga Rp 4.850 per kilogram. Sesaat setelah beras itu dikirim ke sini dan langsung didatangi polisi, baru saya mengetahui kalau beras itu bermasalah, katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang