JAKARTA, SELASA - Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal kukuh terhadap keputusan target penumpang pesawat terbang di Indonesia bakal naik 18 persen. Kenaikan harga BBM dunia sampai saat ini dianggap belum mempengaruhi.
Usai rapat kerja dengan Komisi V DPR di Jakarta, Jusman mengatakan, saat ini rute-rute pesawat pada tujuh bandara besar di Indonesia masih penuh dengan penumpang, karenanya belum ada rencana untuk merevisi penumpang target tahun ini.
"Belum ada tanda-tanda penurunan penumpang, misalnya rute ke Medan, Surabaya, Makassar, Bali. Jadi di tujuh bandara besar di Indonesia itu belum ada penurunan penumpang," kata Jusman, Selasa (3/6).
Apakah tahun ini akan ada revisi target? Menhub mengatakan pasti dilakukan. Menurutnya kalau dalam revisi nanti kemungkinannya turun paling banter 2 persen. Target 18 persen tahun ini juga menurun dibanding dengan tahun lalu yang menargetkan jumlah penumpang pesawat di Indonesia sebesar 20 persen. Pada 2007 lalu, jumlah penumpang pesawat terbang di Indonesia mencapai 37 juta penumpang lebih.
Hal ini berbeda dengan target Asosiasi Perusahaan Angkutan Udara Nasional Indonesia (INACA) yang menargetkan kenaikan jumlah penumpang tahun ini hanya mencapai 6 persen saja. Alasan INACA, kenaikan harga BBM menyebabkan harga pokok terus membengkak, akibatnya, banyak pesawat yang dikembalikan ke lessor karena tidak efisien. Karenanya, jumlah penerbangan pun mulai menurun.
Selain itu, kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar 28,7 persen juga menyebabkan masyarakat mulai mengurangi kegiatan bepergian dengan penerbangan.
Hal sama juga diutaraka oleh Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines, Cucuk Suryo Suprojo. Menurut Cucuk, tahun ini penumpang pesawat tidak mungkin naik 18 persen. "Saya memprediksikan hanya satu digit saja. Kalau dua digit kok tidak mungkin," kata Cucuk di Jakarta.
Saat ini, dianggap menjadi masa-masa tersulit dalam dunia penerbangan karena kenaikan harga BBM. Dia memprediksikan, jumlah penumpang akan turun. Karenanya, tambah Cucuk, peningkatan penumpang tidak akan mencapai 10 persen lebih. (Persda Network/ewa)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang