NEW YORK, RABU - Harga minyak dunia turun setelah Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Ben Bernanke mengisyaratkan untuk sementara tidak akan menurunkan suku bunga. Komentar tersebut telah mendongkrak nilai dollar AS.
Dalam pidato teleconference kepada sebuah konferensi moneter internasional di Spanyol, Ben Bernanke mengisyaratkan penurunan tingkat suku bunga untuk sementara tidak akan dilakukan karena adanya keprihatinan terhadap inflasi. Sejak akhir tahun 2007, serangkaian kebijakan penurunan suku bunga yang dilakukan The Fed untuk merangsang pertumbuhan ekonomi telah berdampak pada melemahnya nilai dollar AS terhadap euro. Ini membantu mendongkrak harga minyak dunia saat investor beralih ke investasi komoditas seperti minyak sebagai penahan inflasi.
Nilai dollar terdongkrak akibat pernyataan yang dilontarkan Bernanke untuk tidak menurunkan tingkat suku bunga. Menguatnya dollar AS telah mengakibatkan harga minyak menjadi lebih mahal bagi investor yang bertransaksi dengan mata uang lainnya.
Kontrak pengiriman minyak mentah light sweet turun 2 dollar AS menjadi 125,76 dollar AS per barrel di bursa komoditas New York Mercantile Exchange. Harga minyak dunia mencapai rekor tertinggi pada 135,09 dollar AS per barrel pada 22 Mei lalu.
Menurut analis, keprihatinan pasar terhadap lesunya permintaan minyak telah berdampak terhadap harga bahan bakar. Data yang di antaranya dikeluarkan oleh Departemen Energi AS menunjukkan, kenaikan harga bahan bakar telah mengurangi kecenderungan warga AS menggunakan kendaraan pribadi. Mereka beralih menggunakan transportasi umum. Produsen otomotif General Motors Corp akan menutup pabrik truk dan SUV di AS, Kanada, serta Meksiko karena lonjakan harga bahan bakar secara drastis telah mengalihkan perhatian pasar pada penggunaan kendaraan yang berukuran lebih kecil.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang