Problem dan Solusi Suspensi Udara

Kompas.com - 04/06/2008, 11:04 WIB

 

JAKARTA, RABU - Suspensi udara atau air sus mulai ramai diaplikasi. Tak lagi Jakarta sentris, kini menyebar di kota-kota besar di tanah air. Isu terhangat, selain air sus tipe bolt on marak dipakai custom air sus. Namun, banyak simpang siur informasi soal custom air sus ini. Katanya berbahayalah, murah-meriahlah, suka jebol di jalan dan sekian ribu gosip lainnya.

Bisa dimaklumi karena teknologinya belum 100% dikuasai, wajar jika masih banyak trial and error yang dilakukan. Lantas seperti apa sih Air Suspension itu?

Beda Pabrikan
Sejatinya sistem air sus terdiri dari kompresor, tabung udara, selang-selang, lalu suspensi-nya sendiri (bisa berbentuk balon karet atau tabung silinder). Setiap komponen terintegrasi menjadi sistem yang tak terpisahkan. Walaupun begitu produksi setiap komponen tak selalu dari pabrik yang sama.

Biasanya setiap komponen diproduksi oleh pabrik atau vendor yang khusus menangani satu bidang. Semisal, vendor sistem suspensi memproduksi balon karet, lalu selang-selang ada bikinan Air Ride, Chassistech, Firestone, Acc atau Universal Air. Untuk kompresor dirancang khusus oleh ahli-ahli di pabrik kompresor (contoh Viair, Thomas dan Zenith).

Semua komponen di atas dirakit menjadi air sus oleh berbagai perusahaan seperti Canover, air runner, Street Ride Pro ataupun Air bagit yang kemudian memberi merek dagangan sendiri. Kemudian ada juga yang melanjutkan riset, seperti Air Runner dan Canover untuk menghasilkan produk-produk spesifik.

Berbeda dengan produk milik Universal Air atau Chassistech  bisa dipakai untuk mobil apa saja, dengan catatan mesti ada proses penyesuaian. Proses penyesuaian yang dilakukan setiap modifikator ini biasa disebut juga custom. Jadi tentu bisa dipahami kalau dengan menggunakan sistem seperti ini yang tanpa jasa riset pabrikan, punya harga yang menarik alias lebih lebih murah daripada produk bikinan perusahaan perakitan tertentu.
 
Namun usah ragu dengan sistem air sus custom ini. Jika diaplikasi dengan tepat oleh otak-otak kreatif modifikator Indonesia, hasilnya tak bakal kalah bersaing dengan sistem terintegrasi khas perusahaan perakitan.
 
Efektif Berkat Akumulator
Jika dilihat dari konstruksi suspensi mobil standar, tipe air sus berbahan balon karet terbagi dua. Sistem strut adalah sistem air sus yang diaplikasi pada sistem per dan sokbreker yang bersatu (sokbreker dipasang di dalam balon karet).
 
Sedangkan mobil yang menggunakan sistem suspensi di mana per dan sokbreker terpisah, bisa dipasang sistem air bag. Sistem balon karet punya bantingan cukup empuk, itu karena karet punya karakter elastis.
 
Ada lagi yang disebut silinder atau biasa dipanggil pneumatic. Bentuknya mirip silinder besi yang dalamnya terdapat ruangan berisi udara yang dapat diatur tekanannya. Sistem silinder besi ini adalah solusi efektif untuk menghadapi ruang spakbor yang mungil dan terbatas. Ditambah, "Andal untuk mengangkat beban tambahan di luar berat mobil, contohnya sistem audio," pendapat Rendy, bos bengkel BTX Concept, Bandung.
 
Namun kini, sistem silinder bagi sebagian orang dicap jelek. Pasalnya diklaim terlalu keras bantingannya. Padahal sebenarnya tidak demikian, "Sistem suspensi silinder bakal efektif jika ditambahi dengan komponen bernama accumulator," buka Iwan, pentolan bengkel Akasia, yang jadi distributor resmi merek Universal Air dan kompresor Viair di Indonesia ini.
 
Accumulator sendiri fungsinya menampung tekanan udara dari silinder, sehingga ketika mobil melewati jalanan bergelombang atau rusak, tekanan udara di silinder dapat bergerak ke accumulator. Efek keras-nya silinder jauh tereliminir. Teknologi accumulator bisa dijumpai pada sokbreker aftermarket sepeda motor. Air sus sistem silinder yang tak menggunakan accumulator, bisa terlihat dalam indikator tekanan udara, “Biasanya jarumnya tak bisa diam, selalu bergerak,” kata Iwan lagi.(Andri/Rudi/Rendy)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau