Artalyta Bersikeras Rumah Itu Miliknya

Kompas.com - 04/06/2008, 11:42 WIB

JAKARTA, RABU - Meski Ketua RT 06 Sandio yang didatangkan sebagai saksi oleh JPU mengatakan bahwa sepengetahuannya rumah TKP tersebut milik Sjamsul Nursalim, tersangka Artalyta Suryani bersikeras itu rumahnya.

"Saksi tidak tahu ada peralihan rumah, dia hanya tahu soal PBB. Saya tegaskan itu rumah pribadi atas nama putra saya. Sejak dia nggak ada tahun 2007, itu dialihkan ke saya," ujar Artalyta dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Rabu (4/6). Begitu juga ketika dikonfirmasi seusai sidang. Artalyta juga tetap mengatakan hal yang sama, "Itu rumah saya."

Menurut kuasa hukumnya, OC Kaligis, rumah tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan Sjamsul Nursalim. Rumah tersebut diperoleh dari seseorang yang bernama Gozali.

Sementara itu, setelah JPU mengambil barang bukti uang dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Sandio mengakui uang seperti itulah yang dilihatnya saat diminta membuka kardus pada hari penggeledahan, 2 Maret 2008. Dalam sidang itu, Artalyta mengaku mengenal kardus tersebut.

Sidang lanjutan ini ditunda hingga Senin (9/6) karena ketiga saksi yang seharusnya memberikan keterangan pada hari ini berhalangan hadir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau