Rusunawa ITS Diresmikan, Mahasiswa Anggap Terlalu Mahal

Kompas.com - 06/06/2008, 15:04 WIB

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meresmikan penggunaan rumah susun mahasiswa di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Selasa (3/6). Namun, sejumlah mahasiswa mengeluh tarif sewa rumah susun mahasiswa itu terlalu mahal. Hal itu terungkap dalam dialog sejumlah mahasiswa Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bersama Djoko yang didampingi Rektor ITS Priyo Suprobo.

Salah satu mahasiswa yang merasa keberatan, Muhammad, mengatakan bahwa tarif sewa kamar sebesar Rp 2,6 juta per mahasiswa per 10 bulan terlalu tinggi bagi sebagian mahasiswa. Mereka lebih memilih kamar
murah walaupun fasilitasnya lebih minim. "Kami berharap, mahasiwa yang tidak mampu bisa digratiskan atau diringankan bebannya," katanya di hadapan Djoko.

Kekhawatiran itu muncul sebab, menurut rencana, semua mahasiswa baru di ITS wajib tinggal di rumah susun mahasiswa (rusunawa) itu mulai tahun ajaran 2008/2009. Rencana tersebut kemudian tertunda karena kapasitas rusunawa ternyata tidak cukup untuk menampung seluruh mahasiwa baru ITS, yang jumlahnya sekitar 2.000 orang.

Rusunawa yang terdiri atas empat gedung itu dirancang untuk menampung 1.760 orang dengan aturan satu kamar dihuni empat mahasiswa. Namun setelah evaluasi ulang, Rektorat ITS memutuskan setiap kamar hanya dihuni dua sampai tiga mahasiswa. "Tempatnya ternyata sempit sekali bila dihuni empat orang," kata Kepala UPT Rusunawa Imam Rochani.

Menanggapi keluhan mahasiswa, Djoko mengatakan bahwa uang sewa itu tetap diperlukan. Uang sewa tersebut untuk biaya pemeliharaan dan bukan untuk mencari keuntungan. Rusunawa ITS yang menelan biaya
pembangunan sekitar Rp 28,5 miliar itu merupakan proyek bersama antara Departemen Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Djoko, yang juga alumnus ITS, mengatakan bahwa rusunawa ITS adalah rusunawa terluas yang dibangun pemerintah. "Rusunawa di Undip dan UGM hanya terdiri atas dua blok," katanya.

Pembangunan rusunawa itu bertujuan mencegah menjamurnya rumah kos di sekitar kampus. Menurut Djoko, keberadaan rumah kos tersebut kerap membuat wilayah sekitar kampus kotor dan tidak tertata.

Murah
Menurut Imam Rochani, tarif sewa kamar sebesar Rp 500.000 per bulan itu masih lebih murah dibandingkan dengan tarif sewa kamar di rumah kos dengan fasilitas setara di sekitarnya. Setiap kamar di rusunawa itu telah dilengkapi kamar mandi dalam dan perabotan. Dengan satu kamar untuk dua mahasiswa, sesungguhnya setiap
mahasiswa membayar Rp 250.000 per bulan. Tarif itu berlaku untuk dua lantai terbawah dari total empat lantai.

Sementara untuk lantai tiga dan empat, satu kamar dihuni tiga mahasiswa. Artinya, biayanya akan lebih murah karena dibagi tiga mahasiswa. "Ini untuk mengantisipasi mahasiswa yang lebih mengutamakan harga murah daripada fasilitas," kata Imam.

A10

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau