PASURUAN, SABTU - Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Itulah peribahasa untuk menggambarkan kegigihan Ny Mutiani (49), seorang ibu yang mencari anaknya, Asmaul Jannah (7), yang diculik awal Maret 2007 lalu. Meski kini Uul, panggilan Asmaul Jannah, telah kembali ke pangkuannya, namun derita dan upaya mencari Uul masih terbayang di benak Mutiani.
Perempuan beranak tujuh dari dua kali pernikahan itu bercerita kepada Surya di rumahnya, Jalan Veteran Gang IX/D Desa Singosari RT 05 RW 02 Kecamatan Kebomas, Gresik, Jumat (6/6). “Kalau ingat itu rasanya ingin menangis lagi,“ katanya.
Di dalam ruang tamu berukuran 3 x 3 meter itu, Mutiani berkisah, anak bungsunya, Uul, tidak kembali ke rumah setelah diajak pergi Ernawati (30), alias Nur Azizah, warga Desa Kebonagung RT 03 RW 06, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.
Ia tak menyangka niat baiknya menolong orang berbuah penderitaan. Bagaimana tidak, untuk biaya mencari anak yang dibawa kabur Erna, Mutiani terpaksa menyusuri gang-gang lokalisasi. Saat itu Mutiani menerima informasi, perempuan yang membawa anaknya berada di lokalisasi Bangunrejo, Surabaya. “Namun sejumlah wisma saya datangi mengaku tidak kenal perempuan itu, “ kata Mutiani. Pencarian terus dilakukan ke sejumlah lokasi yang diduga menjadi tempat tinggal Erna. Selain Pasuruan dan Probolinggo, Mutiani juga ke Banyuwangi. “Tetap tak ada hasilnya,“ katanya.
Selain berdasarkan informasi dari sejumlah bekas teman suami Ernawati, di Pelabuhan Gresik, upaya mencari domisili penculik Uul juga hasil informasi dari beberapa orang pintar. “Saya sempat menginap beberapa hari di terminal Gadang, Malang, karena kehabisan ongkos,“ jelasnya.
Harian Surya, Jumat (6/6), memberitakan Polres Gresik akhirnya menangkap Ernawati (30), warga Desa Kebonagung, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, yang menculik Uul pada 3 Maret 2008.
Saat itu Erna membawa Uul hingga ke Situbondo dan menggadaikannya ke pemilik warung seharga Rp 250.000. Alasannya, ia menitipkan Uul di warung itu dan meminjam Rp 250.000 untuk ongkos mencari suaminya. Ia akan mengambil Uul sekaligus mengembalikan uang setelah menemukan suaminya.
Untuk upaya pencarian Uul, Mutiani mengaku menghabiskan Rp 4, 4 juta. Uang itu hasil dari menjual TV, satu-satunya perabot elektronik keluarganya. Itu masih ditambah pinjaman Rp 2 juta dengan jaminan surat tanah rumah yang ditempati Mutiani berukuran 5 x 15 meter. “Saat itu saya bingung karena ketika itu suami saya kerja di luar pulau,“ kata Ny Mutiani seraya menyebut ketika mencari anaknya, dia hanya ditemani anak keenamnya, Nanang (8).
Namun, Tuhan mendengar doa Mutiani. Usai 41 hari anaknya menghilang, tanpa sengaja tetangganya mengaku melihat Uul di tayangan televisi. Dengan bantuan polisi, Mutiani menjemput Uul yang oleh Erna dititipkan ke Surawi, pemilik warung di Desa Jeruk, Kecamatan Panji, Situbondo. “Saya bersyukur telah bertemu dengan anak saya lagi,“ katanya.
Saat bercerita, sesekali Uul mendekap tubuh Mutiani. Menurut Mutiani, putri bungsunya itu hingga kini masih takut ketika bertemu Erna. Maklum, selama dengan Erna Uul kerap dicubit. “Kalau Uul tak mau memanggil mamak (ibu) kepada Ernawati, dia dicubit,“ jelas Mutiani.
Putrinya juga dipaksa melepas perhiasan giwang emas seberat 12 gram dan dijualnya. Jika mengingat kembali kejadian itu, Mutiani masih menyimpan amarah ke Ernawati. Perempuan itu sempat diberi tumpangan menginap hampir seminggu meski kondisi ekonominya pas-pasan.
Namun rasa kemanusiaan ternyata masih terselip di hati perempuan miskin ini. Ia luluh ketika melihat Fajarudin (1), anak Erna, saat di Mapolres Gresik. Mutiani tak tega melihat Fajar digendong Erna ketika hendak masuk tahanan, Jumat pekan lalu. “Ya, saya bersedia merawat Fajar sementara, sebelum keluarganya yang lain merawatnya,“ katanya. Ia menganggap Fajar terlalu suci untuk ikut menanggung dosa ibunya. Kondisi ekonomi yang kekurangan tak mengecilkan hatinya merawat bocah itu. “Untuk beli susu, saya dibantu keluarga anak sulung saya,“ katanya.
Namun, bantuan itu tak cukup sebab keluarga anak sulung Mutiani juga pas-pasan, hanya ditopang kepala keluarga yang bekerja sebagai kuli di Pelabuhan Gresik. Makanya sekaleng susu seharga Rp 12.000 untuk Fajar harus cukup untuk tiga hari. “Selebihnya kami hanya beri minum Fajar dengan air putih dicampur gula. Terus terang, saya bingung soal biaya merawat Fajar, tapi kasihan kalau melihat ibunya masih di tahanan,“ kata Mutiani.
Suami Mutiani memang sudah pulang dari kerja di luar pulau, tapi dalam tiga bulan terakhir ini ia masih menganggur. Untuk bayar listrik saja tak mampu sehingga penerangan rumah harus memakai lampu minyak karena sambungan listri diputus PLN. “Makanya, kalau memang keluarga Ernawati mau mengganti uang saya yang habis untuk mencari Uul, mungkin saya akan mencabut laporan ke polisi,“ kata Mutiani. (mustain)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang