Panglima TNI: Latgab akan Dilaksanakan Setiap 5 Tahun

Kompas.com - 07/06/2008, 14:22 WIB

RANAI, SABTU - Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengatakan, Latihan Gabungan (Latgab) TNI akan dilakukan rutin setiap lima tahun sekali, untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan dan profesionalisme prajurit.

"Ya, kami berharap bisa secara periodik dilakukan tiga atau lima tahun sekali," katanya, usai menyaksikan pelaksanaan Latihan Sub Komando Satuan Tugas Gabungan TNI Natuna di Ranai, Kepulauan Riau, Sabtu (7/6).

Menurut Panglima TNI, dalam siklus kemiliteran terdapat pendidikan dan latihan serta penugasan. "Latihan Gabungan ini merupakan bagian dari siklus tersebut, untuk memelihara dan meningkatkan profesionalisme prajurit, hingga diharapkan bisa dilakukan periodik," ujarnya.

Djoko menegaskan, menjaga kesiapsiagaan harus terus dibina mesti tidak ada perang terbuka. Justru di masa damai, militer harus bisa mempersiapkan dan memelihara kesiapsiagaannya. "Itu (kesiapsiagaan-Red) hanya bisa dipelihara dan ditingkatkan melalui latihan, semisal latgab tahun ini," ujarnya.

Ia menilai, seluruh persiapan hingga pelaksanaan Latgab TNI khususnya di Natuna berjalan dengan baik termasuk koordinasi antar angkatan darat, laut dan udara dalam menyelesaikan misinya merebut kembali wilayah Natuna yang diskenariokan telah diduduki musuh.

"Semuanya berjalan baik. Karena kita telah melakukan pelaksanaan secara bertahap dan berkelanjutan dari satuan paling kecil hingga satuan yang tinggi tingkatannya. Koordinasi antar-angkatan berjalan baik, nggak ada masalah meski telah lama tidak melakukan Latgab," ungkap Djoko.

Latgab TNI 2008 dilaksanakan di empat titik yakni Sub Komando Gabungan Latihan Natuna, Batam, Singkawang (Kalimantan Barat) dan Sangatta (Kalimantan Timur). "Natuna dipilih sebagai salah satu lokasi Latgab, karena sebagai salah satu pulau terluar Indonesia," katanya.

Akhir latihan gabungan di Natuna diawali dengan serbuan pasukan amfibi dari Brigif II Marinir, Jakarta di Pantai Sengiap pada pukul 05.00 Wib untuk mengamankan wilayah laut Indonesia yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan itu.

Usai penyerbuan oleh pasukan amfibi, dilakukan Serangan Udara Langsung (SUL) oleh tiga pesawat tempur Hawk 100/200 TNI Angkatan Udara dari Pangkalan Udara Supadio, Pontianak. Usai serangan udara sekitar dua menit, dilanjutkan penerjunan sekitar 500 personel Lintas Udara (Linud) TNI Angkatan Darat untuk melakukan perebutan terhadap beberapa instalasi strategis di Pangkalan Udara (lanud) Ranai, Natuna.

Untuk mengendalikan seluruh instalasi Lanud yang telah direbut dari musuh, diterjunkan personel pengendalian pangkalan (Dalan) dan diakhiri dengan pemberian bekal ulang bagi personel TNI yang telah merebut kembali Lanud Ranai.

Hadir dalam peninjauan itu Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Sumardjono dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Subandrio.

Latgab TNI yang dilaksanakan menandai seabad Kebangkitan Nasional dan satu dasawarsa reformasi internal TNI itu melibatkan prajurit di lingkungan Mabes TNI 2.418 orang, TNI Angkatan Darat 10.388 orang, TNI Angkatan Laut 13.150 orang, dan TNI Angkatan Udara 4.615 orang. Alutsista yang dikerahkan meliputi 38 tank, 19 panser, sembilan helikopter dan satu pesawat Cassa 212 dari TNI Angkatan Darat.

TNI Angkatan Laut mengerahkan 61 kapal RI, 30 tank amfibi PT-76, 55 panser amfibi/RRF, 12 unit Kapal K-61, tiga unit Tatra, empat roket M-70, enam Howitzer, dua Hovercraft, satu combat boat, tiga Serider, 78 perahu karet, tiga helikopter NBO-105, dan dua helikopter Bell 412. TNI Angkatan Udara mengerahkan 24 pesawat tempur, 31 pesawat angkut, dan 13 helikopter dari berbagai jenis.

Latgab TNI 2008 akan berlangsung hingga 20 Juni 2008 dan akan ditinjau langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16-17 Juni 2008.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau