Sepupu Munarman Datangi Polda

Kompas.com - 07/06/2008, 19:08 WIB

JAKARTA, SABTU - Sepupu Munarman, Syamsul Bahri Radjam, yang menjadi pengacara Panglima Komando Laskar Islam itu, mendatangi Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (7/6) petang. Ia mengatakan, kedatangannya untuk meminta langsung klarifikasi pihak kepolisian terkait beredarnya isu Munarman ditemukan dalam keadaan tewas.

Sebelumnya, Syamsul sempat menyambangi Mabes Polri sesaat setelah Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Abubakar Nataprawira meninggalkan kantornya. Akhirnya, ia berkunjung ke Polda, dan hanya bertemu para wartawan."Kami menuntut polisi aktif mencari dalang yang terlibat provokasi insiden Monas. Dan juga meminta penjelasan Polri untuk kebenaran SMS dan cari tahu keberadaan Munarman dengan beredarnya SMS itu, berkaitan dengan upaya besar-besaran penangkapan Munarman. Kemudian, meminta polisi melakukan pengungkapan kasus ini sesuai dengan prosedur," kata Syamsul di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (7/6).

Syamsul menilai, pemberitaan selama ini yang menyatakan Munarman identik dengan kekerasan telah membunuh karakter mantan aktivis YLBHI itu. "Upaya penangkapan polisi, seolah-olah Munarman adalah seorang yang sangat ditakuti, teroris dan penjahat kelas kakap. Kami lihat sangat berlebihan dilakukan terhadap seorang Munarman yang intelektualdan pembunuhan karakter," kata dia.

Sikap berlebih kepolisian terhadap upaya pencarian Munarman, kata Syamsul, karena aktivitas Munarman yang belakangan ini banyak mengkritisi pemerintah. "Apalagi SBY cepat merespons untuk pengungkapan kasus ini. Apa mungkin untuk menutupi isu BBM? Munarman selama ini banyak mengritisi soal BLBI, Namru, dan adanya intelijen asing di sekitar pemerintah," ujar Syamsul.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau