Terkena Rob, Petani Tegal Kehilangan Tambak

Kompas.com - 08/06/2008, 20:00 WIB

TEGAL, MINGGU -- Akibat terkena rob, sejumlah petani tambak di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal gagal panen. Mereka juga kehilangan tambak, karena batas tambak dengan laut ambrol.

Tarni (37), petani pemilik tambak di RT 3 RW 3, Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Minggu (8/6) mengatakan, rob mulai terjadi sejak dua bulan lalu, namun semakin parah pada bulan Mei hingga Juni.

Akibat rob yang terjadi dalam sebulan terakhir, tambaknya seluas sekitar seperempat hektar hilang. Tambak itu berada persis di pinggir laut. Sebanyak 2.000 ekor bandeng yang ada di dalamnya juga hilang.

Padahal saat itu, bandeng sudah berusia tiga bulan. Seharusnya saat ini, bandeng dapat dipanen. Kerugian akibat hilangnya bandeng sekitar Rp 2 juta, karena berat bandeng diperkirakan sudah mencapai dua kwintal.

Selain kerugian akibat hilangnya bandeng, Tarni juga kehilangan tambak senilai sekitar Rp 30 juta. Padahal, tambak itu baru saja diperbaiki pada akhir tahun 2007 lalu. Saat itu, ia meminjam uang Rp 10 juta kepada bank, untuk memperkuat tanggul tambak. Namun saat ini, perbaikan tanggul itu tidak ada artinya. Tanggul tambaknya jebol tergerus ombak laut. Ia juga masih harus menanggung angsuran hutang bank, senilai Rp 617.000 per bulan.

Menurut dia, kondisi itu sangat membebani keluarganya. Terlebih selama ini, hasil tambak merupakan salah satu sumber pendapatan utama keluarganya, selain dari aktifitas melaut suaminya, Ruba (40).

Saat ini, satu-satunya sumber pendapatan yang diperoleh hanyalah mencari ikan di laut. Ruba melaut dengan menggunakan perahu tradisional, dengan jangka waktu satu hari (one day fishing). Namun karena harga minyak tanah sangat mahal, mencapai Rp 4.000 per liter, ia memilih mengganti perahu motor dengan perahu layar (perahu tanpa bahan bakar). Hasil yang diperoleh sekitar Rp 25.000 per hari. Akitifitas melaut dengan perahu layar hanya dapat dilakukan di pinggiran.

Tarni dan suaminya sangat berharap adanya bantuan tanggul batu atau groin dari pemerintah. Dengan adanya tanggul batu, ia dapat menyelamatkan tambaknya, dan memanfaatkannya kembali untuk memelihara bandeng.

Sapon (40), petani lainnya juga mengaku kehilangan satu petak tambak, akibat terkena rob. Batas tambak dengan laut ambrol, sehingga tambak tidak dapat difungsikan lagi. Kalau pun dipaksakan, ikan dalam tambak akan hilang terbawa air laut.

Abdulah (22), nelayan dan petani tambak lainnya di Kelurahan Muarereja mengatakan, akibat rob, semua tambak yang berada di pinggir pantai tidak dapat difungsikan. Dari tahun ke tahun, jumlah tambak yang tidak dapat difungsikan semakin banyak. Dalam sebula n terakhir, sekitar tiga petak tambak kembali hilang. Tambak tersebut sudah menyatu dengan laut, meskipun bekas batas atau tanggulnya masih terlihat.

Selain itu, ratusan pohon bakau di sana juga mati. Warga juga khawatir dengan keberadaan rumah mereka. Jarak rumah dengan laut semakin dekat. Selama ini, rumah warga dengan laut dibatasi oleh tambak. Namun karena tambak sudah menyatu dengan laut, saat ini rumah warga langsung berhadapan dengan laut.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau