Tarif Bus Transjakarta Minta Disesuaikan

Kompas.com - 08/06/2008, 20:10 WIB

JAKARTA, MINGGU - Tarif bus transjakarta juga diminta segera disesuaikan, menyusul Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyetujui kenaikan tarif angkutan umum kelas ekonomi, taksi, dan bus patas AC. Kenaikan bahan bakar minyak, terutama solar yang naik sebesar Rp1.200 dari Rp4.300 menjadi Rp5.500 per liter membuat pengelola bus transjakarta, terutama di koridor I Blok M-Kota harus menambah kekurangan 180.000 per bus per hari atau Rp15,66 juta per hari untuk 87 kendaraan yang beroperasi.

Desakan penyesuaian tarif bus transjakarta secara terpisah dikatakan Ketua DPD Organda DKI Jakarta Herry Rotty dan Direktur Umum dan Keuangan Operator PT Jakarta Ekspress Trans, konsorsium Koridor I Blok M-Kota Ibnu Susanto, Minggu (8/6).

Sebagai dampak kenaikan BBM, harga oli dan spare parts juga ikut naik. Selain bahan bakar minyak, PT JET juga harus menanggung kenaikan tarif tol Rp10.000 dari Rp5.000 menjadi Rp15.000 per hari per bus karena setiap hari bus tersebut harus bolak-balik dari Pinang Ranti-Blok M dan sebaliknya.

"Dengan dampak dari kenaikan BBM, saat ini tidak mungkin lagi kami menggunakan tarif lama," kata Ibnu. Bus transjakarta koridor I dikelola konsorsium PT Jakarta Ekspress Trans (JET) merupakan gabungan pengusaha angkutan yang memiliki trayek bersinggungan sepanjang jalan di jalur tersebut.

Berbeda dengan koridor II sampai VII, keseluruhan bus transjakarta koridor I menggunakan bahan bakar solar bukan bahan bakar minyak. Demikian juga biaya operasional bus ini, termasuk bahan bakar minyak sepenuhnya ditanggung Pemprov DKI. Tarif yang berlaku saat ini Rp3.500 per penumpang dari pukul 07.00 sampai 19.00.

 

Rp15,66 juta

Ibnu menjelaskan, pihaknya harus menambah biaya bahan bakar Rp 15,66 juta per hari untuk mengoperasikan 87 armada untuk melayani penumpang dari Blok M-Kota dan sebaliknya. Tambahan kenaikan itu menyusul kenaikan harga solar yang terjadi lebih dari dua pekan terakhir.

Dia menjelaskan, setiap hari setiap bus membutuhkan 150 liter solar. Dengan harga lama solar Rp 4.300 per liter berarti setiap bus membutuhkan biaya Rp645.000 untuk bahan bakar. Sementara dengan harga baru solar Rp5.500 per liter, kebutuhan biaya bahan bakar setiap bus membengkak menjadi Rp825.000 per hari.

Menutup biaya BBM ini, untuk sementara kami mengorbankan biaya lain yang tidak mendesak. "Tetapi sampai berapa lama kami bisa bertahan kalau dana tambahan ini belum juga dikucurkan," kata Ibnu.

Demi kelancaran pengoperasian bus transjakarta koridor I, Rotty mendesak Pemprov DKI segera mengucurkan tambahan biaya operasional untuk menutupi kekurangan biaya bahan bakar bus di koridor I ini. Ibnu membenarkan, sejak tiga hari sejak kenaikan BBM,  pihaknya sudah membuat surat kepada BLU Transjakarta untuk dilakukan penyesuaian tarif.

"Tetapi hingga saat ini kami belum mendapat tanggapan atas surat kami," kata Ibnu. Secara terpisah, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, saat ini pengajuan penambahan biaya operasional bus transjakarta koridor I sedang dalam proses pembahasan.

"Sebagai dampak dari kenaikan BBM, wajar saja kalau biaya operasional bus transjakarta juga meningkat.Usulan untuk meningkatkan biaya operasional terutama bus transjakarta di koridor I akan kami perhatikan," kata Pristono.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau