JAKARTA, MINGGU - Tarif bus transjakarta juga diminta segera disesuaikan, menyusul Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyetujui kenaikan tarif angkutan umum kelas ekonomi, taksi, dan bus patas AC. Kenaikan bahan bakar minyak, terutama solar yang naik sebesar Rp1.200 dari Rp4.300 menjadi Rp5.500 per liter membuat pengelola bus transjakarta, terutama di koridor I Blok M-Kota harus menambah kekurangan 180.000 per bus per hari atau Rp15,66 juta per hari untuk 87 kendaraan yang beroperasi.
Desakan penyesuaian tarif bus transjakarta secara terpisah dikatakan Ketua DPD Organda DKI Jakarta Herry Rotty dan Direktur Umum dan Keuangan Operator PT Jakarta Ekspress Trans, konsorsium Koridor I Blok M-Kota Ibnu Susanto, Minggu (8/6).
Sebagai dampak kenaikan BBM, harga oli dan spare parts juga ikut naik. Selain bahan bakar minyak, PT JET juga harus menanggung kenaikan tarif tol Rp10.000 dari Rp5.000 menjadi Rp15.000 per hari per bus karena setiap hari bus tersebut harus bolak-balik dari Pinang Ranti-Blok M dan sebaliknya.
"Dengan dampak dari kenaikan BBM, saat ini tidak mungkin lagi kami menggunakan tarif lama," kata Ibnu. Bus transjakarta koridor I dikelola konsorsium PT Jakarta Ekspress Trans (JET) merupakan gabungan pengusaha angkutan yang memiliki trayek bersinggungan sepanjang jalan di jalur tersebut.
Berbeda dengan koridor II sampai VII, keseluruhan bus transjakarta koridor I menggunakan bahan bakar solar bukan bahan bakar minyak. Demikian juga biaya operasional bus ini, termasuk bahan bakar minyak sepenuhnya ditanggung Pemprov DKI. Tarif yang berlaku saat ini Rp3.500 per penumpang dari pukul 07.00 sampai 19.00.
Rp15,66 juta
Ibnu menjelaskan, pihaknya harus menambah biaya bahan bakar Rp 15,66 juta per hari untuk mengoperasikan 87 armada untuk melayani penumpang dari Blok M-Kota dan sebaliknya. Tambahan kenaikan itu menyusul kenaikan harga solar yang terjadi lebih dari dua pekan terakhir.
Dia menjelaskan, setiap hari setiap bus membutuhkan 150 liter solar. Dengan harga lama solar Rp 4.300 per liter berarti setiap bus membutuhkan biaya Rp645.000 untuk bahan bakar. Sementara dengan harga baru solar Rp5.500 per liter, kebutuhan biaya bahan bakar setiap bus membengkak menjadi Rp825.000 per hari.
Menutup biaya BBM ini, untuk sementara kami mengorbankan biaya lain yang tidak mendesak. "Tetapi sampai berapa lama kami bisa bertahan kalau dana tambahan ini belum juga dikucurkan," kata Ibnu.
Demi kelancaran pengoperasian bus transjakarta koridor I, Rotty mendesak Pemprov DKI segera mengucurkan tambahan biaya operasional untuk menutupi kekurangan biaya bahan bakar bus di koridor I ini. Ibnu membenarkan, sejak tiga hari sejak kenaikan BBM, pihaknya sudah membuat surat kepada BLU Transjakarta untuk dilakukan penyesuaian tarif.
"Tetapi hingga saat ini kami belum mendapat tanggapan atas surat kami," kata Ibnu. Secara terpisah, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, saat ini pengajuan penambahan biaya operasional bus transjakarta koridor I sedang dalam proses pembahasan.
"Sebagai dampak dari kenaikan BBM, wajar saja kalau biaya operasional bus transjakarta juga meningkat.Usulan untuk meningkatkan biaya operasional terutama bus transjakarta di koridor I akan kami perhatikan," kata Pristono.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang