YOGYAKARTA, SENIN - Pascakenaikan harga bahan bakar minyak, harga rumah naik lima persen. Meskipun begitu, pengembang tetap optimistis penjualan rumah bisa mencapai target.
Ditemui hari Minggu (8/6), Direktur Utama PT Merapi Arsitagraha, pengembang beberapa perumahan real estate, Bambang Syarif mengungkapkan, per tanggal 1 Juni lalu pihaknya telah menaikkan harga jual rumah sebesar lima persen untuk seluruh tipe rumah. Harga tersebut merupakan "harga shock" akibat kenaikan harga berbagai material bahan bangunan sebesar 10-15 persen.
"Nantinya kami akan meninjau lagi harga tersebut. Seharusnya, jika harga BBM naik 30 persen, kenaikan harga rumah berkisar 15 persen," kata Bambang. Pengembang yang membidik pasar menengah ke atas ini pun tetap optimistis dapat mencapai target pertumbuhan penjualan rumah sebesar 10-15 persen per tahun.
Pengembang lain, misalnya PT Cahyo Griya Inti Santoso, pengembang Nogotirto Regency, bulan ini segera menetapkan harga jual rumah yang baru. "Estimasi kenaikan lima persen," ujar Angela Mahasanti Kusumaningrum, salah seorang staf pengembang tersebut.
Pascakenaikan harga BBM, belum ada unit rumah Nogotirto Regency di Karangtengah, Nogotirto, Sleman, yang terjual. Karena membidik kalangan menengah ke bawah, strategi yang digunakan adalah menawarkan harga rumah yang terjangkau, namun dengan luasan tanah lebih sempit. Untuk tipe 36/72 dan tipe 40/80, misalnya, dilepas dengan harga Rp 150 juta-Rp 167 juta. Meskipun nantinya harga jual naik lima persen, pihaknya tetap optimistis karena kebutuhan rumah tetap ada.
"Calon pembeli rumah di Yogyakarta semakin kritis. Mereka tambah jeli melihat kualitas dan profesionalisme pihak developer dalam membangun rumah dan bertanggung jawab sehingga mereka pun pilih-pilih," kata Angela yang akrab disapa Arum ini.
Sulit
Jika harga rumah tipe sedang dan besar bisa disesuaikan dengan kenaikan harga BBM, tidak demikian dengan rumah sederhana sehat (RSH). Ketua DPD Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) Yogyakarta Remigius Edi Waluyo mengemukakan, kenaikan harga BBM sangat memukul pengembang yang menyediakan RSH.
"Harga konstruksi naik, harga tanah mahal, namun harga jual tidak bisa naik. Apalagi, suku bunga kredit kepemilikan rumah juga akan naik akibat suku bunga Bank Indonesia yang naik. Pembeli yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah terpukul, pengembang juga kesulitan," ungkap Edi.
A02/PRA
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang