Ibu Hamil Dibunuh, Janinnya Dibetot

Kompas.com - 10/06/2008, 11:10 WIB

BELLEVILLE, SELASA - Demi menghindari vonis mati, Tiffany Hall (26) mengaku bersalah membunuh temannya yang sedang hamil berikut bayi yang sedang dikandungnya.

Tiffany mengaku bersalah atas lima tuduhan pembunuhan dan akhirnya `hanya` dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan bebas bersyarat.  Vonis itu dijatuhkan Senin (9/6) atau Selasa (10/6) waktu Indonesia.

Pembunuhan itu terjadi pada September 2006. Dengan keji Tiffany memukul kepala temannya, Jimella Tunstall (23), yang sedang hamil menggunakan kaki meja, kata jaksa Robert Haida. Setelah itu, Tiffany menyeret Jimella ke bak mandi dan membetot janin yang dikandungnya. Jimella tewas karena kehabisan darah.

Tiffany membuang mayat temannya itu ke sebuah tempat di kawasan East St Louis. Beberapa jam kemudian, ia melapor ke polisi Illinois bahwa ia melahirkan. Namun, ketika polisi datang, mereka mendapati Tiffany sedang menggendong janin yang sudah meninggal. Perempuan itu menolak diperiksa di rumah sakit.

"Tiga hari kemudian, Tiffany mengunjungi ayah dari dua anak dan janin Jimella itu," kata Haida. Pria itu mengasuh dua anaknya dengan Jimella dan satu anak Jimella. Kepada pria itu, Tiffany mengatakan, Jimella memintanya menjemput anak-anak itu sekalian mengambil mobilnya. "Itulah hari terakhir anak-anak itu terlihat oleh sang ayah," kata Haida.

Sampai di rumah, Tiffany menenggelamkan ketiga anak itu, DeMond Tunstall (7), Ivan Tunstall-Collins (2), dan Jinella Tunstall (1), di bak mandi yang sama tempat ibu mereka dibunuh.  

Drama pembunuhan sadis itu terungkap sepekan setelah Jimella tewas. Saat itu Tiffany mengaku kepada kekasihnya bahwa ia telah membunuh seorang perempuan hamil dan merampok janinnya. Pria itulah yang melapor hal ini kepada polisi.

Jenazah ketiga bocah malang itu ditemukan dua hari kemudian, disembunyikan di mesin cuci di sebuah apartemen di East Saint Louis, tempat mereka pernah tinggal bersama sang ibu.

Salah satu pengacara Tiffany, James Gomric, menolak bicara soal motif pembunuhan, juga mendiskusikan apakah kliennya menyesal atau tidak. Gomric hanya mengatakan bahwa Tiffany cukup sehat secara mental untuk diadili.

Keluarga Jimella mengaku telah memaafkan Tiffany. Sandra Myers, ibu Jimella, mengatakan, mengambil hidup satu orang tetap tidak adil dibandingkan lima orang lain yang tewas. "Saya telah memaafkannya," ujar Sandra.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau