TEHERAN, RABU - Langkah pemerintah AS menggalang dukungan Uni Eropa untuk menghukum lebih berat Iran terkait isu nuklir tidak akan berhasil.
Keyakinan ini disampaikan Pirouz Mojtahedzadeh, Ketua Yayasan Penelitian Urosevic yang berpusat di London, Selasa (10/6) atau Rabu (12/6) waktu Indonesia. Dalam wawancara dengan kantor berita IRNA itu, Mojtahedzadeh, mengatakan Presiden AS sedang membangun semangat baru dalam kerja sama AS dengan sekutu Eropa-nya untuk menghukum Iran. "Namun para pengamat politik tahu bahwa setelah era Tony Blair, mantan PM Inggris, Uni Eropa tidak akan mengikuti kebijakan Amerika," katanya.
Bush mengunjungi Eropa di bulan-bulan terakhir masa jabatannya ke Eropa. Ia pun mengadakan pembicaraan mengenai tiga maslah penting, yaitu nuklir Irak, membantu misi AS di Afghanistan dan tentang lingkungan.
"Eropa berusaha memainkan peran konstruktif di arena internasional. Beberapa pengamat internasional pun menyerukan kepada Uni Eropa untuk meningkatkan peranannya mengenai persoalan Iran," kata Mojtadedzadeh.
Akademisi ini juga menyatakan bahwa meskipun masyarakat internasional setuju untuk meratifikasi resolusi yang didukung AS di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), namun pihaknya telah menginformasikan kepada Bush dan AS, bahwa resolusi itu diratifikasi dengan tujuan menghindarkan penggunaan kekerasan terhadap Iran.
Masyarakat internasional bersikeras untuk memecahkan kasus nuklir Iran melalui cara damai, dan menyerukan kepada Eropa agar memainkan peran konstruktif dalam masalah ini tanpa mengurangi warna dan teriakan mereka.
Mojtahedzadeh lebih lanjut mengatakan, bahwa menurut Dirjen Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Mohamed ElBaradei, semua pihak harus berusaha menemukan solusi yang rasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang