JAKARTA, RABU- Rabu (11/6) siang tadi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menemui Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Leksono dan pimpinan Panitia Anggaran DPR untuk membahas percepatan jadwal pembahasan Rancangan APBN (RAPBN) 2009. Ini dilakukan karena pembahasan tersebut diperkirakan akan terpotong oleh perayaan hari raya Idul Fitri yang jatuh pada bulan Oktober.
Menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu, dalam pertemuan itu pemerintah meminta agar penyampaian Nota Keuangan dan Pidato Kenegaraan Presiden tentang RAPBN 2009 tidak disampaikan pada 16 Agustus 2008, tetapi dipercepat menjadi 1 Agustus 2008. Dengan demikian, pembahasan RAPBN 2009 menjadi lebih cepat dua minggu karena dalam kondisi normal, pembahasannya baru dimulai pada 18 Agustus, atau setelah Nota Keuangannya disampaikan kepada DPR.
"Jadi dengan demikian perubahan ini pembahasan RAPBN 2009 akan dimulai di awal Agustus 2008. Lumayan lebih cepat dua minggu," ujar Anggito.
Akibat perubahan ini, basis perhitungan asumsi ekonomi makro 2009 menjadi lebih sumir. Pada kondisi normal, basis asumsi makro 2009 akan didasarkan pada realisasi perekonomian hingga akhir Oktober 2008. Namun akibat percepatan itu, basis perhitungan asumsi makro di APBN 2009 adalah realisasi perekonomian hingga September 2008. "Ini akan menjadi tantangan Panitia Anggaran dan pemerintah dalam membuar RAPBN yang baik," ujar Anggito.
Hingga saat ini, Departemen Keuangan sudah menyampaikan perkiraan volume konsumsi BBM bersubsidi di 2009 yang akan mencapai minimal 38,8 juta kilo liter. Itu berarti, di tahun 2009, realisasi konsumsi BBM bersubsidi akan lebih parah dibandingkan tahun 2008. "Yang jelas ini akan jauh lebih berat dibanding tahun ini," kata Anggito.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diperkirakan akan mencapai 6,2-6,5 persen. Inflasi di kisaran 5,8-6,2 persen. Nilai tukar ada di posisi Rp 8.950-9.050 per dollar AS. Suku bunga SBI tiga bulan di level 7,25-7,75 persen. Harga minyak mentah Indonesia diperkirakan mencapai 95-110 dollar AS per barrel. Ada pun produksi minyak mentah siap jual (lifting) diproyeksinya di level 927.000-950.000 barrel per hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang