JAKARTA,KAMIS - Di saat harga minyak menggila, Indonesia ternyata punya timbunan minyak hasil produksi (lifting) 14 juta barrel yang belum terjual. Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) menyalahkan Pertamina soal timbunan minyak ini.
Sekarang, BP Migas mengirim ultimatum: Pertamina harus menurunkan timbunan lifting itu hingga tujuh juta barel dalam tempo dua minggu. Jika Pertamina tidak bisa segera menjual, BP Migas akan membuka tender dan memilih perusahaan lain untuk menjual minyak tersebut. "Untuk menggantikan Pertamina," kata Raden Priyono, Kepala BP Migas, kemarin (11/6).
Misteri timbunan minyak ini juga mengundang Kantor Menko Ekonomi menurunkan tim audit produksi minyak. "Tim ini sebenarnya sudah lama ada, tapi sekarang kami aktifkan lagi begitu ada penundaan penjualan lifting," kata seorang pejabat di Kantor Menko Ekonomi.
Persoalan ini juga sempat menjadi pembahasan serius, ketika BP Migas dan Pertamina bertemu Presiden, kemarin. Sebab, penjualan yang tertunda berarti negara terlambat mendapat setoran duit. Pertamina mengaku tidak melanggar ketentuan apapun kendati sudah menunda penjualan minyak. Argumentasi lain, penjualan tertunda karena Pertamina kesulitan mendapatkan tanker pengangkut minyak, serta cuaca laut yang masih buruk.
Itu sebabnya, Pertamina mengaku kecewa berat dengan ultimatum BP Migas yang akan menunjuk perusahaan lain untuk menjual minyak Indonesia. "Terserah kepada BP Migas, dia yang punya kok," kata Direktur Utama Pertamina Arie Sumarno, dengan nada tinggi.
Timbunan 14 juta barel minyak mentah ini tersebar di tempat penyimpanan Pertamina serta 36 kontraktor production sharing (KPS). Angka ini naik dari sebelumnya yang 11 juta barel (KONTAN 10 Juni 2008). Beberapa KPS malah mengaku tak tahu soal timbunan ini. "Lifting itu tidak ada di kami," kata Hilmi Panigoro, Presiden Komisaris PT Medco Energy, salah satu perusahaan KPS.
Belakangan mencuat spekulasi bahwa Pertamina sebenarnya telah menjual sebagian lifting tersebut. Namun, Pertamina belum melaporkannya ke BP Migas. "Kami akan segera mengklarifikasi," kata Juru Bicara Pertamina Wisnuntoro. (Gentur P., Yohan R., Hans H., Uji Agung, Sanny Sicilia)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang