Tak Ada Minyak Tanah, Plastik Pun Jadi

Kompas.com - 13/06/2008, 11:18 WIB

SEJUMLAH masyarakat terus berupaya mencari solusi untuk mengatasi harga bahan bakar minyak (BBM) yang kian melambung tinggi, terutama warga di desa-desa yang jauh dari pusat ekonomi dan pemerintahan.

Tak saja masalah harga, barang yang dicari pun sulit didapat. Seperti minyak tanah yang menjadi energi utama masyarakat di Desa Penagan, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka. Di desa sekitar 50 km dari pusat ibu kota Provinsi Bangka Belitung ini harga minyak tanah mencapi Rp 8.000 per liter. Untuk mendapatkan minyak tanah satu liter saja tidak setiap hari tersedia di pedagang pengecer.
 
Sejumlah warga desa ini terpaksa menggunakan plastik bekas kemasan air minuman sebagai pengganti minyak tanah untuk menyalakan api saat memasak.

Gelas plastik yang banyak berceceran di daerah itu rupanya bisa dijadikan pengganti minyak tanah. Gelas plastik itu dibakar menggunakan korek api, ranting, dan kayu bakar. Hanya saja cara ini tak seefektif minyak tanah.

"Kami terpaksa memanfaatkan bekas gelas plastik air mineral. Gelas plastik itu dibakar untuk memasak," kata Ny Lusi ((35), ibu rumah tangga di Dusun I Desa Penagan saat ditemui Bangka Pos, Rabu (11/6).

Kondisi ini terjadi karena BBM di desa itu tak hanya langka, tapi juga harganya tak terjangkau. Minyak tanah mencapai Rp 10.000 per liter, sementara solar Rp 13.000 per liter. "Akhirnya kita tidak mampu lagi membeli minyak tanah kalau harganya sudah Rp 10.000 per liter," kata Lusi.

Padahal, kata Lusi, BBM tidak hanya dibutuhkan untuk bahan bakar saat memasak, tetapi juga untuk penerangan lampu teplok di rumah mereka. "Minyak tanah kan tak hanya untuk memasak, tapi juga untuk lampu teplok di malam hari," tambahnya.

Keluhan ini juga diutarakan warga lain, Kasirman (40). "Persoalannya PLN tak masuk ke daerah ini sehingga jika BBM mahal, warga sangat kesulitan. Kalau menggunakan penerangan dari mesin diesel, harga solar Rp 13.000 per liter. Sedangkan menggunakan lampu teplok minyak tanah Rp 10.000 per liter. Inilah kesulitan yang dirasakan warga," sesalnya.

Selain Lusi dan Kasirman, warga lainnya saat ditemui Bangka Pos juga menyampaikan keluhan serupa. Warga hanya bisa berharap, dalam waktu dekat akan ada perhatian khusus dari pemerintah daerah. "Mudah-mudahan ada yang peduli dengan kondisi di desa kami ini," harap warga.(fery laskari)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau