SEJUMLAH masyarakat terus berupaya mencari solusi untuk mengatasi harga bahan bakar minyak (BBM) yang kian melambung tinggi, terutama warga di desa-desa yang jauh dari pusat ekonomi dan pemerintahan.
Tak saja masalah harga, barang yang dicari pun sulit didapat. Seperti minyak tanah yang menjadi energi utama masyarakat di Desa Penagan, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka. Di desa sekitar 50 km dari pusat ibu kota Provinsi Bangka Belitung ini harga minyak tanah mencapi Rp 8.000 per liter. Untuk mendapatkan minyak tanah satu liter saja tidak setiap hari tersedia di pedagang pengecer.
Sejumlah warga desa ini terpaksa menggunakan plastik bekas kemasan air minuman sebagai pengganti minyak tanah untuk menyalakan api saat memasak.
Gelas plastik yang banyak berceceran di daerah itu rupanya bisa dijadikan pengganti minyak tanah. Gelas plastik itu dibakar menggunakan korek api, ranting, dan kayu bakar. Hanya saja cara ini tak seefektif minyak tanah.
"Kami terpaksa memanfaatkan bekas gelas plastik air mineral. Gelas plastik itu dibakar untuk memasak," kata Ny Lusi ((35), ibu rumah tangga di Dusun I Desa Penagan saat ditemui Bangka Pos, Rabu (11/6).
Kondisi ini terjadi karena BBM di desa itu tak hanya langka, tapi juga harganya tak terjangkau. Minyak tanah mencapai Rp 10.000 per liter, sementara solar Rp 13.000 per liter. "Akhirnya kita tidak mampu lagi membeli minyak tanah kalau harganya sudah Rp 10.000 per liter," kata Lusi.
Padahal, kata Lusi, BBM tidak hanya dibutuhkan untuk bahan bakar saat memasak, tetapi juga untuk penerangan lampu teplok di rumah mereka. "Minyak tanah kan tak hanya untuk memasak, tapi juga untuk lampu teplok di malam hari," tambahnya.
Keluhan ini juga diutarakan warga lain, Kasirman (40). "Persoalannya PLN tak masuk ke daerah ini sehingga jika BBM mahal, warga sangat kesulitan. Kalau menggunakan penerangan dari mesin diesel, harga solar Rp 13.000 per liter. Sedangkan menggunakan lampu teplok minyak tanah Rp 10.000 per liter. Inilah kesulitan yang dirasakan warga," sesalnya.
Selain Lusi dan Kasirman, warga lainnya saat ditemui Bangka Pos juga menyampaikan keluhan serupa. Warga hanya bisa berharap, dalam waktu dekat akan ada perhatian khusus dari pemerintah daerah. "Mudah-mudahan ada yang peduli dengan kondisi di desa kami ini," harap warga.(fery laskari)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang