Tinggal beberapa langkah lagi Irene Kharisma Sukandar (16) meraih prestasi yang belum pernah digapai wanita Indonesia. Menjadi Grandmaster Wanita. Ya, gelar impian setiap pecatur itu kini sudah di depan pelupuk matanya.
April lalu, untuk pertama kalinya gadis remaja yang dulu gemar main pingpong ini meraih Norma Grandmaster di turnamen catur Grandmaster Woman’s JAPFA Chess Festival, Jakarta. Ia meraih angka kemenangan 6,5 dari 9 angka penuh sebuah turnamen Grandmaster, mengalahkan pecatur-pecatur kampiun—di antaranya unggulan utama WGM Li Ruofan dari Singapura serta WGM Jana Krivec dari Slovenia.
Ini bukan pula langkah mantapnya yang pertama. Sebulan sebelumnya, siswi SMA Nusantara di Ciputat ini juga menggetarkan ketika ia tampil sebagai juara di Rector International Cup di Ukraina. Sayang, ia hanya meraih 6 poin. Kalau saja menang dengan 7 poin, Irene meraih Norma Grandmaster.
Tinggal dua kali lagi meraih Norma Grandmaster—persyaratan mutlak, di samping harus memiliki elo rating minimum 2.300-an—Irene yang kelahiran Jakarta ini akan menjadi Grandmaster Wanita yang pertama dari Indonesia.
”Mudah-mudahan tahun ini bisa. Melihat jadwal turnamen yang ada sampai akhir tahun ini, mudah-mudahan saya secepatnya bisa,” ujar remaja yang mengaku gemar membaca cerita wayang—dari Arjunawiwaha, Mahabharata, Bharatayuda sampai Parikesit—ini pula.
Target berikut?
”GMW (atau istilah internasionalnya WGM) tentu salah satu target utama saya. Saya juga ingin mencapai Master Internasional untuk cowok (kini Irene menyandang Master Internasional Wanita, MIW dengan elo rating 2.243),” katanya.
”Kalau toh tidak titel, ya setidaknya dalam waktu dekat kenaikan rating. Untuk GMW kan seharusnya punya rating 2.300 atau 2.350. Saya baru 2.243. Maka, kalau toh saya nanti bisa tiga kali meraih Norma GMW, akan tetapi rating belum mencukupi, ya saya harus menunggu lagi sampai rating saya cukup.” katanya.
Banyak berkorban
Menjadi pecatur seperti Irene bukanlah jalan hidup yang enak. Banyak waktu, tenaga, dan pikiran yang harus dikorbankan. Sejak usia sembilan tahun, harus membagi waktu antara sekolah dan bermain catur—keliling berbagai kota bahkan berbagai negara untuk bertanding, serta berlatih, berlatih, dan berlatih.
Atau, sejak bulan lalu, misalnya. Belum genap beberapa hari istirahat dari Ukraina, Irene sudah diharuskan berlatih lagi delapan jam sehari, bersama pelatih pria MI (Master Internasional) Tibor Karolyi dari Hongaria.
”Setiap hari dia harus berlatih bersama Tibor, dari pukul 10.00-13.00, lalu pukul 15.00-20.00 selama sebulan,” tutur Kristianus Liem, Humas PB Percasi (Persatuan Catur) yang sering mendampingi Irene di berbagai turnamen internasional. Semuanya itu, di antaranya demi angan-angan gelar Grandmaster itu.
”Memang, saya banyak berkorban untuk catur. Akan tetapi, saya sendiri merasa masih kurang, apalagi jika disandingkan dengan prestasi pecatur dunia lainnya yang seumur dengan saya dan berangkat dari masa junior yang sama. Dalam dua atau empat tahun, prestasi mereka sudah hebat sekali,” kata Irene.
”Saya ingin memenuhi target mereka (para pengurus), dan juga target pribadi saya. Tapi sungguh ini tidak mudah. Dibutuhkan kestabilan dalam berbagai hal, dalam latihan, pertandingan, emosi...
Target ke depan, selain gelar Grandmaster...
Ke depan, kan saya tidak selamanya di catur. Saya juga harus memikirkan pendidikan saya. (Sekarang kelas II SMA). Meski waktu saya banyak untuk main catur, sampai saat ini, belum pernah saya sampai menunda pendidikan saya, atau cuti. Karena target saya, kalau nanti tiba waktunya kuliah, ya saya harus kuliah. Enggak ada cuti-cutian. Saya harus memikirkan pendidikan juga karena catur ini kan tidak selamanya saya jalani. Kesejahteraan atlet, apalagi pecatur, di Indonesia ini belum terjamin.
Lihat saja, juara dunia (tinju), seperti Ellyas Pical. Tidak juga terjamin hidupnya meski pernah juara dunia. Maka, kita juga harus cari jalan lain, untuk nantinya menyejahterakan diri sendiri.
Susah membagi waktu, antara catur dan sekolah?
Tidak susah juga. Tinggal bagaimana prioritas kita saja. Kan hanya dua prioritasnya: catur dan sekolah. Yang lain, paling-paling kehidupan pribadi.
Saat ini prioritas saya memang main catur. Lainnya agak di-kendorin. Kalau tidak diprioritaskan salah satu, sana oke, situ oke, malah tidak ada yang sukses. Kenapa catur dulu? Alasan pertama, karena umur-umur seperti saya ini adalah umur yang produktif untuk berprestasi. Dan, belum tentu dua tahun lagi, saya akan masih bisa berprestasi seperti sekarang.
Alasan kedua, melihat kesempatan. Semakin tua, semakin susah berpikir, mengatasi emosi. Karena catur, selain memakai otak, saat tanding sangat dipengaruhi pula emosi, pikiran....
Umurmu masih muda, 16 tahun. Umumnya usia 16 tahun merupakan usia yang penuh hura-hura, tralala-lili. Kalau bergaul dengan anak-anak seusiamu canggung tidak?
Ya merasa kurang cocok. Bahkan, dengan yang dua tahun lebih tua dari saya pun saya sering merasa beda cara pandang. Menurut saya, ini tidak ada yang salah, tidak ada yang benar. Hanya kebetulan, prioritas kita berbeda. Itu saja.... Bahkan, dengan atlet-atlet cabang lain pun, saya kadang berbeda rasa tanggung jawabnya.
Tidak punya minat lain di luaran, seperti dugem, musik, misalnya...
(Tertawa) Saya suka baca buku saja. Buku-buku sejarah. Wayang, saya juga suka. (Dari Arjunawiwaha, Ramayana, Mahabharata, Baratayuda sampai Parikesit) Semua sudah tamat saya baca.
Kenapa sukanya wayang?
Background saya dari keluarga Jawa meski ibu Sunda. Mereka Jawa sekali, meski saya sendiri tidak bisa bahasa Jawa sama sekali. Saya hanya tahu wayang dari buku saja. Buku-buku dari eyang saya. Dia punya banyak kumpulan buku-buku lama tentang wayang, masih pakai ejaan-ejaan lama.
Saya suka wayang, mungkin karena ceritanya seperti dongeng. Secara keseluruhan, menurut saya, wayang itu memberi filsafat kehidupan. Kita bisa melihat dalam cerita-cerita itu mana yang tokoh baik, mana yang tokoh jahat. Kita juga melihat, bagaimana mengembangkan hidup...
Buku lain yang saya baca, ya tentang self improvement. Persiapan untuk nanti, kalau mulai kuliah, mungkin tahun 2010. Juga buku-buku politik, ekonomi. Pada dasarnya, buku apa saja saya suka.
Pacaran? Punya pacar?
Enggak, enggak, enggak... (buru-buru menepis). Selain enggak boleh, juga saya belum melihat ada untungnya pacaran.
Sama sekali tidak suka mengisi waktu senggang dengan hura-hura?
Tidak. Saya lebih senang buka laptop saja. Entah kenapa senang buka laptop. Pokoknya, kalau buka laptop, ada saja hal apa yang bisa dikerjain. Entah itu internet atau melatih varian catur yang tiba-tiba lewat di kepala.
Apa yang kamu lihat tentang Indonesia, dari kacamata remajamu?
Indonesia sekarang sangat terpuruk sama sekali. Dari segi apa saja sangat terpuruk, ekonomi, prestasi. Dan yang paling terkenal di mata orang-orang asing tentang Indonesia adalah, korupsi! Sangat memprihatinkan sekali. Saya nasionalis, tetapi sering merasa ingin saja rasanya tinggal di luar Indonesia karena prihatin melihat keadaan Indonesia sekarang ini. Prihatin, mendengar ada prediksi, negara ini akan bangkrut segala. Pemimpin yang kayak apa pun hebatnya jika memimpin negeri ini, sepertinya akan susah.
Coba, apalagi yang bisa dibanggakan Indonesia selain olahraga? Oke, ada pula rekan-rekan kita di bidang pendidikan, yang tampil sebagai juara olimpiade matematika segala yang bisa dibanggakan. Tetapi selain itu apalagi?
Pariwisata? Bali? Bali pun belakang ini surut, lantaran peristiwa bom. Budaya? Sepertinya rasa nasionalisme masyarakat kita di bidang budaya juga kurang. Dari segi berbahasa saja, misalnya. Banyak di antara kita yang lebih percaya diri untuk memakai bahasa-bahasa asing untuk bahasa sehari-hari. Demikian pula, produk-produk yang beredar di masyarakat. Lebih banyak produk asing.
Sering jika saya bertanding di luar negeri, ditanya orang: nationality (kebangsaan)mu apa? Ketika mereka tahu saya dari Indonesia, mereka seperti memandang rendah, melecehkan. Terkadang saya merasa minder menjadi orang Indonesia.
Mula-mula mereka respek, ketika melihat hasil yang kita dapat. Tetapi setelah tahu saya dari Indonesia, sepertinya mereka merendahkan. Sangat beda misalnya, seseorang tahu, kalian dari mana? Oh, Singapura. Negeri yang ”paling kaya” di Asia Tenggara.
Tetapi di sisi lain, keprihatinan ini juga mendorong saya untuk berprestasi. Saya ingin membawa nama Indonesia ke dunia luar, bahwa Indonesia tidak hanya hebat dalam korupsi saja. Bukan hanya dikenal akan kebangkrutan ekonominya. Saya ingin menunjukkan prestasi Indonesia di dunia....
Setiap orang punya titik awal, mengapa ia menjadi dirinya yang sekarang. Seperti juga remaja pecatur, Irene Kharisma ini. Ia ingat, titik awalnya itu berawal ketika ia berusia sekitar sembilan tahun.
”Kami dari keluarga olahragawan. Meski ibu saya ibu rumah tangga biasa, ayah dulu pe- main nasional tenis meja. Ia seangkatan Sinyo Supit,” kata Irene.
Kehidupan Irene dan keluarganya sehari-hari memang kehidupan olahraga. Tak hanya olahraga tenis meja, akan tetapi juga renang, lari. Hukuman pun—jika melakukan kesalahan—bersifat hukuman fisik seperti olahraga: harus squat-jump (lompat jongkok), atau loncat-loncat, lari, push- up.
Mengenal catur, ketika ia masih berusia empat tahun. Waktu itu, abangnya, Kaisar Jenius, yang dua tahun lebih tua, disekolahkan ayahnya di sekolah catur Enerpac, milik pengusaha Eka Putra Wirya (kini Ketua Harian Percasi) di pertokoan Roxy Mas, Jakarta. Sering, Irene menonton catur, saat menjemput sang kakak di Roxy. Irene lebih sering main tenis meja.
Mulai main catur ketika ia dimasukkan ke sekolah catur milik Eka Putra Wirya di Bekasi—yang kemudian dinamakan Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA). Keluarganya malah kemudian ikut pindah kontrak rumah ke Bekasi, dan rumah milik keluarga di Gandaria, Kebayoran Baru, malah dikontrakkan.
”Tetapi saya tidak terlalu serius. Beberapa bulan ikut catur, keluar, lalu masuk lagi. Setelah coba-coba ikut kejurnas dan hasilnya lumayan bagus, ayah melihat saya sepertinya berbakat di catur,” katanya.
Titik balik
Titik balik ketika berusia sembilan tahun, ikut Kejuaraan Sirkit Catur, masuk grand final sirkit catur junior nasional pada bulan Maret 2001. Ikut di kelompok 14 tahun meski masih berusia 9 tahun, eh, malah tampil sebagai juara dengan angka mutlak. Artinya menang terus tanpa remis.
Setelah kemenangan itu, Eka Putra Wirya membiayainya dan mengirim ke Kejuaraan Kelompok Umur ASEAN pada Desember 2001. Ditargetkan setidaknya 10 besar, ternyata malah masuk ke peringkat ke-5.
Kecemerlangannya bermain catur juga ditunjukkan di Kejurnas Palembang 2002. Masih umur 10 tahun, tetapi malah tampil sebagai juara di KU 12 tahun, lagi-lagi dengan nilai penuh, tanpa kalah. Gemilang lagi di Kejurnas 2003 Semarang. Juara dengan angka penuh, 9, di KU 16 tahun meski Irene masih 11 tahun.
Karena hasil-hasil gemilang itu, Eka kembali mengirim Irene ke Kejuaraan Dunia Junior di Yunani sekitar Oktober-November 2003. Ketika itu, Irene berumur 11 tahun, diikutkan di KU 12 tahun. Lagi-lagi, masuk target, berhasil menduduki peringkat 6-9 dunia.
Mulai kelihatan di percaturan dewasa, ketika diterjunkan di Olimpiade Catur 2004. Irene dapat medali perak untuk papan ke-3. Cukup meyakinkan, lantaran arena ini bukanlah arena yunior, melainkan arena pecatur-pecatur senior, pecatur Grandmaster.
Hasil terbagusnya di yunior adalah peringkat ke-4 dunia di kejuaraan junior Perancis tahun 2005. Sampai akhirnya, ditargetkan untuk menggapai gelar Grandmaster Wanita. Kalau bisa tahun ini.
Jimmy S Harianto