NEW YORK,SENIN - Dollar AS melemah terhadap euro, namun menguat terhadap yen pada Senin (16/6) setempat atau Selasa pagi WIB, setelah negara-negara industri G-8 menghindari setiap inisiatif baru untuk mendorong penguatan greenback yang sedang menderita.
Euro terangkat karena inflasi zona euro mencatat rekor tertinggi memperkuat ekspektasi Bank Sentral Eropa (ECB) akan menaikkan suku bunganya pada bulan depan. Mata uang tunggal Eropa meningkat menjadi 1,5477 dollar AS pada 2100 GMT setelah mencapai 1,5384 dollar pada akhir Jumat. Sementara terhadap mata uang Jepang, dolar dikutip pada 108,15 yen, tak berubah dari posisi Jumat.
Greenback mendapat sedikit dukungan karena pertemuan para menteri keuangan G8 di Jepang mengalihkan isu mata uang dalam komunike akhir mereka. Pernyataan yang fokus terhadap pelambatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya harga minyak, mengecewakan beberapa investor yang telah menantikan komentar spesifik melemahnya dolar dan isyarat intervensi di pasar valuta asing adalah sebuah kemungkinan.
"Absennya ini tidak mengaketkan karena pertemuan tidak dihadiri para bankir bank sentral. Namun, sejumlah yang hadir membuat komentar dari menggarisbawahi indikasi penguatan dolar baru-baru ini adalah baik," kata Stephen Malyon dari Scotia Capital seperti dikutip AFP.
Sementara Kepala Analis valas Standard Chartered, Callum Henderson, mengatakan komunike G8 Juni sebagian besar mengecewakan untuk penguatan dollar yang mencari konfirmasi lebih lanjut komentar pejabat AS pada mata uang.
Euro didukung oleh berita bahwa inflasi di 15 negara zona euro mencapai sebuah rekor 3,7 persen pada Mei, didorong melambungnya harga minyak dan pangan ke level tertinggi sejak mata uang tunggal Eropa diluncurkan pada 1999.
Tingkat inflasi, direvisi naik dari estimasi pertama pada 3,6 persen, merupakan kenaikan paling tajam dalam 12 bulan dari April, ketika harga konsumen di zona euro naik 3,3 persen.
Para investor meningkatkan keyakinannya ECB dalam pertemuan pada 3 Juli akan menaikkan suku bunga acuannya, sebuah langkah yang diindikasikan Gubernur ECB Jean-Claude Trichet awal bulan ini untuk menghadapi memuncaknya tekanan inflasi. "ECB kemungkinan akan menaikkan suku bunganya dari 4,00 persen menjadi 4,25 persen pada pertemuan 3 Juli," kata Howard Archer dari Global Insight.
Dalam perdagangan terakhir di New York, dollar AS berada pada 1,0445 franc Swiss turun dari 1,0460 franc pada Jumat. Pound berada pada 1,9631 dollar naik dari 1,9481 dollar.
Sementara rupiah Selasa (16/6) pagi berada di kisaran Rp 9.315/9.320 per dollar AS. Analis memprediksi garuda akan bergerak dalam kisaran yang sempit. Menurut Kepala Tresuri Bank NISP, Suriyanto Chang, seperti dikutip Kontan, rupiah stabil karena Bank Indonesia terus melakukan pengawalan ketat. Selain itu harga minyak juga menentukan pergerakan rupiah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang