JAKARTA, SELASA - Meski membukukan kenaikan laba bersih sebanyak 18 persen menjadi Rp185,5 miliar pada 2007, Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) tidak membagikan dividen. Dana sebesar itu akan disimpan sebagai cadangan untuk mempertinggi kinerja perusahaan tahun ini. Demikian Direktur Utama CPIN Franciscus Affandi mengatakan hal itu kepada pers, Selasa (17/6).
CPIN membukukan pendapatan tahun buku 2007 sebesar Rp8,7 triliun. Dua tahun lalu, pendapatannya sebesar Rp6,6 triliun. Target penjualan pada 2008 besarnya Rp12 triliun atau naik 40 persen ketimbang 2007.
Kemudian, laba usaha 2007 mencapai Rp479,7 miliar. Pada 2006, laba usaha perusahaan yang menempatkan bisnis makanan ayam sebagai salah satu inti usaha berada di angka Rp389,8 miliar. Dengan demikian, laba bersih mengalami peningkatan dari Rp157,1 triliun menjadi Rp185,5 miliar atau naik 18 persen. Target profit 2008 adalah 30 persen di atas laba bersih 2007.
Franciscus, lebih lanjut, menjawab pertanyaan kompas.com mengatakan pihaknya memang sempat merasakan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "Khususnya pada daya beli konsumen," kata Franciscus.
Kendati demikian, pada saat hampir bersamaan, komoditas seperti kelapa sawit, karet, jagung, dan pertambangan justru tengah terkerek terkait melimpahnya permintaan untuk bahan baku energi alternatif di luar fosil. "Ini yang membuat daya beli meningkat di luar Jawa khususnya," kata Franciscus.
Jadilah, CPIN bakal serius mengalihkan perhatian ke luar Jawa, terlebih kawasan Indonesia Timur. Menurut Franciscus, pada 2008, belanja modal (capex) CPIN besarnya sekitar Rp350 miliar. Dana yang 40 persennya berasal dari pinjaman dan sisanya dari internal itu bakal dimanfaatkan untuk memperluas pasar tersebut.
Rinciannya, sekitar 30 persen dari dana belanja modal akan dimanfaatkan untuk pengembangan day old chicken (anak ayam usia sehari). Selebihnya, dana dipakai untuk pembangunan pabrik makanan ayam (feed mill) di Lampung sekaligus menyelesaikan pabrik sama di Makassar. Di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan itu, feed mill CPIN berkapasitas 25.000 ton per bulan.
Lalu, masih menurut Franciscus, pihaknya tahun ini juga berkonsentrasi penuh pada sektor yang menurut CPIN disebut agribisnis. Sektor itu meliputi bisnis makanan ayam, seperti disebutkan di atas, penetasan telur dan daging ayam olahan untuk dikonsumsi.
Dalam hitung-hitungan CPIN, per 31 Maret 2008, pangsa pasar makanan ayam sudah digenggam separuh. CPIN juga masih menguasai 44 persen pangsa penetasan telur dan day old chicken dan 72 persen daging ayam olahan untuk dikonsumsi.
Sementara, makanan ayam menyumbang 78 persen pendapatan CPIN, disusul anak ayam sebesar 12 persen. Sementara, daging ayam olahan untuk dikonsumsi menyumbang sebanyak 7 persen. Sektor yang satu ini mengalami peningkatan 50 persen dalam kurun waktu setahun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang