Giat ke Luar Jawa, CPIN Tak Bagi Dividen

Kompas.com - 17/06/2008, 15:44 WIB

JAKARTA, SELASA - Meski membukukan kenaikan laba bersih sebanyak 18 persen menjadi Rp185,5 miliar pada 2007, Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) tidak membagikan dividen. Dana sebesar itu akan disimpan sebagai cadangan untuk mempertinggi kinerja perusahaan tahun ini. Demikian Direktur Utama CPIN Franciscus Affandi mengatakan hal itu kepada pers, Selasa (17/6).

CPIN membukukan pendapatan tahun buku 2007 sebesar Rp8,7 triliun. Dua tahun lalu, pendapatannya sebesar Rp6,6 triliun. Target penjualan pada 2008 besarnya Rp12 triliun atau naik 40 persen ketimbang 2007.

Kemudian, laba usaha 2007 mencapai Rp479,7 miliar. Pada 2006, laba usaha perusahaan yang menempatkan bisnis makanan ayam sebagai salah satu inti usaha berada di angka Rp389,8 miliar. Dengan demikian, laba bersih mengalami peningkatan dari Rp157,1 triliun menjadi Rp185,5 miliar atau naik 18 persen. Target profit 2008 adalah 30 persen di atas laba bersih 2007.

Franciscus, lebih lanjut, menjawab pertanyaan kompas.com mengatakan pihaknya memang sempat merasakan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "Khususnya pada daya beli konsumen," kata Franciscus.

Kendati demikian, pada saat hampir bersamaan, komoditas seperti kelapa sawit, karet, jagung, dan pertambangan justru tengah terkerek terkait melimpahnya permintaan untuk bahan baku energi alternatif di luar fosil. "Ini yang membuat daya beli meningkat di luar Jawa khususnya," kata Franciscus.

Jadilah, CPIN bakal serius mengalihkan perhatian ke luar Jawa, terlebih kawasan Indonesia Timur. Menurut Franciscus, pada 2008, belanja modal (capex) CPIN besarnya sekitar Rp350 miliar. Dana yang 40 persennya berasal dari pinjaman dan sisanya dari internal itu bakal dimanfaatkan untuk memperluas pasar tersebut.

Rinciannya, sekitar 30 persen dari dana belanja modal akan dimanfaatkan untuk pengembangan day old chicken (anak ayam usia sehari). Selebihnya, dana dipakai untuk pembangunan pabrik makanan ayam (feed mill) di Lampung sekaligus menyelesaikan pabrik sama di Makassar. Di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan itu, feed mill CPIN berkapasitas 25.000 ton per bulan.

Lalu, masih menurut Franciscus, pihaknya tahun ini juga berkonsentrasi penuh pada sektor yang menurut CPIN disebut agribisnis. Sektor itu meliputi bisnis makanan ayam, seperti disebutkan di atas, penetasan telur dan daging ayam olahan untuk dikonsumsi.

Dalam hitung-hitungan CPIN, per 31 Maret 2008, pangsa pasar makanan ayam sudah digenggam separuh. CPIN juga masih menguasai 44 persen pangsa penetasan telur dan day old chicken dan 72 persen daging ayam olahan  untuk dikonsumsi.

Sementara, makanan ayam menyumbang 78 persen pendapatan CPIN, disusul anak ayam sebesar 12 persen. Sementara, daging ayam olahan untuk dikonsumsi menyumbang sebanyak 7 persen. Sektor yang satu ini mengalami peningkatan 50 persen dalam kurun waktu setahun.   

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau