Menunggu Geliat Wisata Bali

Kompas.com - 18/06/2008, 11:27 WIB

SABTU (15/6) siang itu panas terik sekali di Buleleng, Bali. Namun, di atas pentas terbuka depan Pura Meduwe Karang, 20 penari kolaborasi Branding Shanti-Shanti Shanti tetap riang gembira membawakan tarian Penyambutan Sweta Pangkaja. Gerakan tangan, mata, dan kaki terlihat dinamis dan serempak.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, yang duduk di barisan terdepan, terlihat sekali menikmati tarian tersebut. Bahkan, empat tarian lainnya, yakni tari Nelayan yang dibawakan penari dari anak-anak SMP, tari Kijang Kencana yang dibawakan anak-anak sekolah dasar, dan tari Joget oleh penari remaja, membuat ribuan penonton tetap bertahan walau ada ratusan penonton lainnya berdiri dan berpanas-panas.Menteri Jero Wacik dan sejumlah tamu lainnya pun melantai, turut berjoget di pentas.

Begitulah selintas suasana peresmian Gerakan Nasional Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona yang dipusatkan di Pura Meduwe Karang, Buleleng, Bali. Tarian tersebut bukan tarian kreasi baru, tapi tarian yang sudah lama ada. Namun demikian, masyarakat setempat, tamu, dan wisatawan asing, tetap dibuat terpesona.

"Jauh sebelum ada gerakan sadar wisata dan sapta pesona, Bali sudah melaksanakannya. Bahkan, ketika saya di Australia, pendeta di sana malah lebih mengenal Bali dibanding Indonesia. Ketika ia menanyakan Indonesia itu sebelah mana Bali, saya sampai minta ia mengulangi pertanyaannya. Lalu saya jelaskan, Bali itu bagian dari Indonesia," kata Dharma Wacana Tokoh Masyarakat Bali, Ida Pedande Gde Gunung dalam sambutannya.

Menurut Ida Pedande, Bali mendunia adalah berkah pariwisata dari dulunya. Bali tidak punya potensi bahan tambang seperti minyak bumi, tapi punya keindahan alam dan seni budaya yang menarik bagi jutaan wisatawan asing.

Menbudpar Jero Wacik mengatakan, Gerakan Nasional Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona di Bali adalah kebijakan strategis untuk mendorong percepatan pembangunan sektor pariwisata. Program-program Gerakan Nasional Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona yang dilaksanakan di Kabupaten Buleleng, Bali, secara umum meliputi empat kegiatan utama, yaitu, pertama peneduh jagad, meliputi penghijauan dan penataan lansekap, perbaikan prasarana obyek dan kebersihan lingkungan obyek wisata.

Kedua, ngayah/bersih pura, meliputi penyediaan/renovasi toilet, penataan taman di telanjakan pura, pembersihan/pengecatan bangunan jaba pura, pembuatan signage, dan penyediaan tempat sampah. Ketiga pasamuan/rembuq banjar, dalam bentuk dialog atau sarasehan yang melibatkan wakil dari pemerintah dengan segenap pemangku kepentingan pariwisata, dan acara mengibung/kenduri.

"Serta keempat, kegiatan pendukung lainnya seperti dukungan pembinaan kesenian tradisional dan penyebarluasan panduan Sapta Pesona Wilayah sasaran program yaitu Pantai Lovina, Pura Beji, Pura Meduwe Karang, Pura Pulaki, Danau Tamblingan dan desa Sambangan, " papar Jero Wacik.

Pada peresmian di Buleleng itu, Menbudpar dengan segenap pemangku kepentingan telah melakukan penanaman pohon dan dialog. "Program yang sama akan ditindaklanjuti daerah-daerah lain di Indonesia, yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan peran aktif masyarakat dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kegiatan kepariwisataan, " jelasnya.

Saat berdialog di Pantai Lovina sebelumnya, Menteri Jero Wacik mengatakan, pengaruh dua kali Bom Bali hampir tak ada. Kedatangan turis asing tetap tinggi. Tahun 2007 kedatangan turis ke Bali sebanyak 1,7 juta orang, dari jumlah kunjungan nasional yang 5,5 juta orang. "Walau demikian, kesadaran wisata di kalangan masyarakat harus tetap diupayakan, termasuk gerakan Sadar Wisata, agar kedatangan turis ke Bali semakin tinggi. Tahun 2008 target kunjungan turis asing ke Indonesia sebanyak 7 juta orang," tandas Jero Wacik.

Menjawab pertanyaan masyarakat, agar dibuat jalan dua jalur dari Denpasar ke Buleleng, Bali bagian utara, Menbudpar malah berharap agar Gubernur yang baru nantinya harus memperjuangkan pembangunan Lapangan Terbang di Bali utara. Pasalnya, Bandara Internasional sudah semrawut.

Sedangkan soal APBD yang selalu "dicorat-coret" oleh DPRD untuk budaya dan pariwisata, Jero Wacik cuma mengharapkan agar DPRD mendorong kemajuan pariwisata dengan meningkatkan anggaran APBD. Karena, ternyata, bila anggarannya wisatanya besar, hasil yang didapat masyarakat dan pelaku wisata juga meningkat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau