Joko Soeprapto Demonstrasikan Temuannya

Kompas.com - 18/06/2008, 19:10 WIB

KEDIRI, RABU- Sosok kontroversial Joko Soeprapto mulai angkat bicara setelah muncul polemik tentang kegiatannya. Di halaman bengkel mobil miliknya, Joko memperagakan salah satu alat penemuannya yang diklaim mampu memperbesar daya listrik menjadi berlipat ganda energinya.

Peragaan yang berlangsung sekitar 15 menit itu ditunjukan kepada tamunya, yakni Komandan Kodim 0810 Letnan Kolonel Artileri Medan Chrisetyono dan seorang staf pengajar dari Sekolah Tinggi Teknik Angkatan Darat di Karangploso Malang, J awa Timur, Kapten Budi Santoso, Rabu (18/6) siang di Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Sekitar pukul 11.00, Joko keluar dari rumahnya yang dikenal dengan Padhepokan Jodhipati. Selain dua tamunya, Joko juga mengajak beberapa anak buahnya ke sebuah tiang listrik yang terletak di pojok kanan halaman bengkel.

Beberapa peralatan disiapkan, antara lain sebuah lampu panggung, amphere meter, kabel, sebuah kotak berwarna merah yang bertuliskan inverter, sebuah peralatan yang berbentuk mirip kumparan dan sebuah alat untuk mengelas besi.

Alat-alat itu dihubungkan satu dengan lainnya dan dialiri arus listrik. Pada saat listrik mengalir, lampu juga menyala dan seorang karyawan Joko melakukan pengelasan.Tidak ada penjelasan apa-apa terhadap peragaan yang mereka lakukan. Demikian pula mengenai alat-alat yang dipakai. Joko hanya diam, sedangkan yang berbicara adalah Kapten Budi Santoso dan salah salah seorang bernama Torikh dari pihak Joko yang bertindak sebagai penanya.

Menurut Budi, Joko memiliki sebuah alat yang mampu mendaur ulang energi yang dihasilkan dari baterai menjadi sebuah energi berkekuatan 100.000 Megawatt. Konsep yang dipakai Joko menurutnya sangat ilmiah dan tidak ada unsur magig di dalamnya.

"Prinsipnya sama untuk menciptakan energi adalah massa (m) kali kecepatan cahaya (c) lalu dikuadratkan. Ketika rumus ini diterapkan pada peralatan elektronik, ternyata energi yang dihasilkan luar biasa. Energi dari baterai bisa untuk menghidupkan lampu dan dipakai mengelas besi, hanya den gan didaur ulang," ujarnya.

Torikh mengatakan, menurut penjelasan Joko, alat itu juga bisa menjadi pembangkit listrik bertenaga listrik dengan daya yang dihasilkan mampu mencapai 100.000 Megawatt.

Juru bicara Joko, Catur Suryadi, mengatakan, Joko berencana mendemonstrasikan penemuannya yang lain yang sangat penting pada Kamis (19/6) siang sekitar pukul 14.00 di halaman rumah. Temuan yang akan ditunjukkan adalah alat yang mampu mengubah air menjadi bahan yang mengandung bahan bakar, yakni gas Hidrogen.

"Prinsip kerja alat itu adalah memisahkan air dari moleku-molekul penyusunnya. Molekul yang mengandung bahan bakar akan dipisahkan dan diberi katalis agar dapat berubah menjadi bahan bakar sesuai yang dikehendaki," katanya.

Ratusan undangan telah disebar untuk menyaksikan demonstrasi alat tersebut, diantaranya dari Kementerian Riset dan Teknologi. Akan tetapi pada acara itu nanti tidak dibuka sesi tanya jawab, alasannya takut melenceng dari pokok persoalan yang dibahas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau