Sejenak Jadi Koki Kerajaan Thailand

Kompas.com - 23/06/2008, 14:02 WIB

Awalnya saya agak males-malesan mengikuti kelas memasak yang diadakan salah satu hotel bintang lima di jantung kota Bangkok, Thailand. Jauh-jauh terbang dari Jakarta, kenapa nggak langsung jalan-jalan aja, malah harus berkutat dengan bumbu-bumbu dapur.

Tetapi, karena sudah menjadi jadwal yang harus diikuti, tidak ada alasan untuk menolaknya. Kala itu saya dan sejumlah media diundang oleh Tourism Authority of Thailand untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di negeri Gajah Putih itu.

Thai Cooking Class memang menjadi salah satu daya tarik Amari Watergate Hotel, selain kenyamanan kamar dan tempatnya yang strategis. "Di kelas memasak ini menu-menunya kami sesuaikan dengan permintaan customer. Mempelajari masakan Thai menjadi liburan yang menyenangkan bagi mereka," kata Kullapranee Sawareephol, Direktur Sales dan Marketing Amari Watergate.

Pagi itu kami akan memasak Royal Thai Cuisine, menu yang biasa disantap oleh kalangan kerajaan. Rupanya, salah satu chef hotel, Surapat Inato, pernah menjadi koki kerajaan selama 13 tahun. Ada tujuh menu yang harus kami selesaikan dalam waktu dua jam. Wow, banyak banget.

Kelas memasak pagi itu menimbulkan berbagai reaksi dari peserta sebab tak cukup hanya menonton, tetapi semua wajib memasak bersama dengan sang chef. Salah satu teman menunjukkan kekhawatirannya. "Gue paling gak bisa masak, apalagi pakai goreng-gorengan," katanya. Teman yang lain menambahkan, "Seumur hidup gue belum pernah masak nih," katanya waswas. Sementara itu, seorang peserta dengan semangat menyatakan, "Gue harus ikut memasak bareng koki neh," ujarnya dengan penuh semangat. Maklum, memasak adalah hobinya.

Sebelumnya, peserta diberi celemek putih, serbet putih, dan topi juru masak. Jadi serasa koki beneran nih. Setelah diberi gambaran awal oleh Executive Chef Peter Kaserer soal menu-menu yang akan dimasak bersama, peserta dibagi menjadi dua kelompok agar ketujuh masakan bisa selesai tepat waktu.

Pelajaran pertama pun dimulai. Kami akan membuat Som Tam, salad yang terdiri dari pepaya muda dan udang dengan bumbu yang spicy.

Siapa yang mau menjadi volunter? Melihat menu yang sederhana, teman saya “takut” menggoreng langsung mengajukan diri. Untungnya, semua bahan sudah diracik dengan rapi, jadi peserta tinggal memasaknya saja.

Mengikuti semua langkah sang juru masak, teman saya pun mulai beraksi. Garam, cabe rawit, dan gula jawa ditumbuk jadi satu. Kemudian dengan lincah, ia menambahkan udang, kacang yang telah disangrai dan ditumbuk kasar, irisan tipis pepaya muda, dan potongan kacang panjang.

Langkah berikutnya, chef Inato menuangkan sari jeruk limau dan saus ikan yang diikuti dengan tekun oleh sang murid. Hmmm, aromanya yang segar begitu menggoda.

Saya yang tadinya tidak tertarik menjadi larut dengan kesibukan teman saya meracik salad dengan semangat. Begitu juga dengan dua teman lain dalam kelompok kami. Sambil sesekali memotret, pandangan mereka terus tertuju pada meja salad.Langkah terakhir adalah menambahkan tomat ceri dan mengaduk bahan-bahan menjadi satu. Wuih, akhirnya SomTamsiap disajikan di pinggan coklat nan cantik. Rasanya benar-benar sedap, pedas, asam, asin bercampur menjadi satu. Bedanya, rasa yang dihasilkan sang chef sungguh balance, sementara salad buatan teman saya, pedasnya lebih menonjol.

"Memasak itu ternyata gampang. Jadi pengin bikin di rumah buat anak-anak," kata teman saya. Rasa tertarik juga menyelimuti saya, setelah melihat semua proses yang sederhana. Jadi penasaran, pengin mencoba sendiri.

Pelajaran kedua dan ketiga dilalui dua orang teman saya yang lain dengan lancar tanpa kesulitan. Ghoong Hom Sabai (udang goreng bungkus kulit lumpia) dan Tom Kha Gai (sup ayam bumbu santan, sereh, dan laos, disajikan dalam buah kelapa utuh) berhasil dibikin dengan cantik.

Well, saya mendapat giliran keempat, yakni membuat Hor Mok Poo (daging kepiting dengan bumbu kare, santan, dan daun kemangi). Kali ini kami berpindah tempat ke chef Peter.

Wah, agak dag-dig-dug juga saya, takut masakannya tidak jadi, soalnya jarang banget masak. Saya pun mengikuti langkah chef Peter. Pertama, saya harus mencampur ikan yang sudah dihaluskan dengan bumbu kare, irisan tipis daun limau Kaffir, dan daging kepiting yang telah dihaluskan. Hmm..ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan.

Selanjutnya, saya harus memasukkan potongan kol dan daun kemangi ke dasar mangkuk kecil segiempat yang terbuat dari daun pisang. Lalu, ditambah dengan adonan yang sudah saya buat sebelumnya.

Untuk hiasan, potongan kaki kepiting saya letakkan di tepi mangkuk bersama dengan potongan daun limau Kaffir. Lucu juga, selesai sudah menu kepiting saya, siap untuk dikukus selama 15 menit.

O ya, sebelum dikukus, di atas adonan saya wajib menambahkan santan dan juga irisan cabe merah tipis. Sayang, saya tidak sempat mencicipi masakan saya karena terbatasnya waktu.

Sementara masih ada tiga menu lainnya yang harus dimasak. Tapi nggak masalah, selesai Thai Cooking Class kami akan dijamu bersama, lengkap dengan semua menu Royal Thai Cuisine yang kami masak.

Ternyata memasak masakan kerajaan tidak sulit. Satu hal lagi yang kami sepakati, memasak itu menyenangkan....
 
 
 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau