Mahasiswa Unas Tuntut Sidang Kode Etik IDI

Kompas.com - 23/06/2008, 15:26 WIB

JAKARTA, SENIN - Mahasiswa Universitas Nasional (Unas) menuntut Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menggelar sidang etik kedokteran terhadap tim dokter RS Pusat Pertamina (RSPP) yang menyatakan almarhun Maftuh Fauzi meninggal karena terinfeksi HIV.

Para mahasiswa mempertanyakan pernyataan tim dokter RSPP yang berbeda-beda soal penyebab kematian Maftuh. Sebelum menyatakan Maftuh terkena HIV AIDS dokter mengatakan, kematian mahasiswa Unas tersebut karena gagal jantung akibat infeksi sistemik.

Mahasiswa juga menyayangkan pernyataan dokter soal penyebab kematian Maftuh yang dinilai terlalu terburu-buru karena tanpa melalui otopsi terhadap jenazah Maftuh. Keterangan-keterangan yang diberikan dokter RSPP berbeda dengan rekam medis di RS UKI yang mengatakan Maftuh mengalami trauma di kepala dan mengalami nyeri di kepala yang hebat sebelum dirujuk ke RSPP.

Selain dokter RSPP, PB IDI juga diminta untuk menggelar sidang etik kedokteran terhadap dokter-dokter di RS Kramat Jati dan Poliklinik Polres Metro Jakarta Selatan. Pelayanan para dokter di kedua tempat ini dinilai tidak layak.

"Maftuh ditahan tanpa perawatan yang layak. Kepalanya sering pusing akibat pukulan aparat, tapi polisi membiarkan," ujar Arton Koordinator Solidaritas Mahasiswa Unas, kepada pengurus PB IDI di kantor ID, Jakarta, Senin (23/6). Mereka didampingi pengacara dari LBH Jakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau