Priyo Budisantoso: Golkar Masih Digdaya

Kompas.com - 23/06/2008, 19:08 WIB

JAKARTA, SENIN - Ketua Fraksi Partai Golkar DPR, Priyo Budisantoso berkeyakinan, partainya masih digdaya sampai sekarang ini. Kepada para wartawan di DPR, Senin (23/6) ia menolak bila kekalahan Golkar secara beruntun dalam pertarungan Pilkada di beberapa daerah, sudah menjadi prasyarat untuk segera digelar musyawarah luar biasa (Munaslub).

Meski kalah di sejumlah daerah, kata Priyo, Partai Golkar optimis menang 41,2 persen dalam pilkada kabupaten maupun kota. Wacana Munaslub dianggapnya terburu-buru.

"Munaslub belum saatnya dan belum ada alasannya. Kedigdayaan Golkar itu, bukanlah diukur dalam Pilkada tapi harus melalui pelaksanaan Pemilu legislatif. Tapi, kalau memang Golkar di 2009 nanti memang kalah,  atau kejelungkup, mau melakukan apapun, ya terserah. Termasuk, kalau mau melakukan Munaslub," tegas Priyo Budisantoso.

"Tapi, kalau sekarang janganlah, istilahnya  kemrungsung. Kita masih menang 41,2 persen dalam pilkada kabupaten maupun kota. Dan sampai sekarang, kita ini juga masih optimistis, karena nanti semua pasti akan bekerja. Yang sudah barang tentu,  akan jauh berbeda dengan cara kerja dalam pilkada," tukasnya.

Kekalahan telak di Pilgub Jateng, makin menambah malu Partai Golkar sebagai pemenang Pemilu 2004. Tercatat, dari Sabang sampai Merauke, jago-jago Golkar seakan tak mendapat restu untuk menjadi pemimpin. Dalam pertarungan Pilgub di Provinsi Bangka Belitung, jago Golkar Hudarni Rani yang berpasangan dengan Ishak Zainuddin kalah.  Kemudian, jago Golkar di Sumatera Utara, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara (sedang bersengketa),  Nusa Tenggara Timur, Lampung, dan di seluruh provinsi di Pulau Kalimantan.

Menkumham Andi Matallata disela-sela rapat kerja dengan Komisi III DPR mengungkapkan, kekalahan dalam Pilkada Jawa Tengah, tidak bisa dikatakan sebuah kekalahan besar bagi partai. Menurutnya, itu hanyalah kekalahan yang biasa saja karena hanya pada tingkat level gubernur saja.

"Kekalahan besar bagi Golkar itu adalah saat gagal mempertahankan Habibie menjai presiden dan tidak bisa membawa pak Akbar Tandjung sebagai wapres," tegas Andi Matallata.

Sementara itu, kader Golkar yang lain Ferry Mursidan Baldan kemudian tidak sepakat bila sekarang ini partai harus dituntut menyelenggarakan munaslub.

"Kalah atau menang itu biasa dan tidak perlu panik. Golkar juga belum merasa perlu melakukan radikalisasi perubahan kepemimpinan karena yang ada sekarang sudah sesuai dengan amanat reformasi. Kalau ada yang minta perombakan, itu terlalu berlebihan. Lebih baik, digunakan saja untuk memenangkan Partai Golkar pada Pemilu 2009 nanti," saran Ferry Mursidan Baldan. (Persda Network/yat)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau