SERANG, SELASA - Letusan dan gempa Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda menurun 289 kali dibandingkan dua pekan lalu hingga mencapai 511 kali.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Anton Tripambudi di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Senin (23/6) malam, mengemukakan, menurunnya aktivitas letusan dan kegempaan Anak Krakatau akibat terjadi secara fluktuatif. Karena itu, setiap hari intensitas letusan dan kegempaan Gunung Anak Krakatau tidak bisa diprediksi. "Yang jelas setiap hari terkadang mengalami kenaikan atau penurunan aktivitas vulkanik," katanya.
Berdasarkan hasil rekaman alat seismograf di Pos Pemantauan pukul 00.00-18.00 memperlihatkan letusan dan kegempaan tercatat 289 kali, yakni vulkanik dalam (46 kali), vulkanik dangkal (118 kali), letusan (66 kali), tremor (4 kali), dan embusan (55 kali). "Dengan adanya penurunan aktivitas vulkanik Anak Krakatau diharapkan statusnya beberapa hari ke depan menjadi waspada, "katanya.
Menurut dia, saat ini status Gunung Anak Krakatau masih Siaga atau level III sehingga tidak diperbolehkan mendekati titik letusan. Pengunjung dan nelayan hanya diperbolehkan berada pada radius 2 km dari titik letusan karena gunung masih berbahaya.
Bahkan, hingga saat ini Gunung Anak Krakatau masih menyemburkan material kerikil serta asap beracun yang bisa mengancam keselamatan. "Kalau kita mendekat gunung dikhawatirkan terkena lontaran material dan bisa membahayakan jiwa," ujar Anton.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang