McCain Terganggu Ulah Penasihatnya

Kompas.com - 24/06/2008, 14:24 WIB

FRESNO, SELASA - John McCain, calon presiden Partai Republik, menuai kecaman keras gara-gara penasihat seniornya salah omong soal terorisme.

Charlie Black yang sebelumnya sudah menjadi sorotan karena aksi-aksi lobinya, dikutip dari majalah Fortune edisi 7 Juli, mengatakan bahwa sebuah serangan teroris akan menguntungkan McCain. Black bahkan mengatakan, bahwa kubunya terbantu berkat pembunuhan terhadap mantan PM Palkistan Benazir Bhutto Desember 2007 lalu.

Tak pelak pernyataan ini membuat marah kubu Barack Obama, kandidat dari Partai Demokrat. Bahkan tim kampanye McCain pun dibuat kecewa. Ditanya soal komentar Black itu, McCain mengaku tidak bisa membayangkan mengapa penasihatnya bisa mengatakan itu. "Itu tidak benar. Saya bekerja tanpa kenal lelah sejak serangan 11 September untuk mencegah serangan berikutnya terhadap Amerika Serikat. Catatan saya sangat jelas," katanya.

Dengan menunjuk kerjanya membentuk komisi penyelidik Serangan 11 September dan hubungannya dengan Komite Persenjataan Senat, McCain menambahkan, "Saya tidak bisa membayangkan itu, dan jika benar ia mengatakan itu, saya tidak tahu konteksnya. Saya sangat tidak setuju," katanya.

Juru bicara Obama, Bill Burton, menyebut pernyataan Black itu sangat memalukan dan itu merupakan politik yang harus diubah. "Barack Obama akan meninggalkan kebijakan yang gagal, sinis dan memecah belah ini, sehingga kita bisa menyatukan bangsa pada tujuan bersama untuk melawan Al Qaeda," kata Burton.

Black pun langsung minta maaf. Dengan suara pelan ia membacakan permintaan maaf yang ditulis tangan di atas kertas. "Saya sangat menyesal atas komentar itu. Sangat tidak pantas. Saya mengenal John McCain mengabdikan seluruh kehidupannya sebagai orang dewasa untuk melindungi negara ini dan menempatkan keamanan di atas pertimbangan lain," kata Black.

Black berulang kali berpendapat bahwa McCain selalu mendapat keuntungan tiap kali persoalan keamanan menjadi berita besar. McCain, mantan pilot angkatan laut dan pernah menjadi tawanan Vietkong, lama menjadi anggota Kongres dan telah mengunjungi berbagai negara.

Sebaliknya, Barack Obama baru empat tahun duduk di Senat dan hanya sekali mengunjungi Irak. Ia berencana melakukan kunjungan kedua menjelang pemilu November mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau