Laporan Wartawan Kompas Orin Basuki
SINGAPURA,RABU - Indonesia tercatat sebagai negara yang tergolong paling terdampak akibat perlambatan ekonomi di Amerika Serikat. Itu disebabkan pada tahun 2001, Indonesia mengalami pertumbuhan minus tiga persen, padahal negara-negara lain di kawasan Asia masih mencatat pertumbuhan yang positif. Pada tahun 2001, Amerika mengalami resesi ekonomi, pada saat itu, dan akibatnya seluruh dunia terkena dampaknya.
Kepala Peneliti Ekonomi untuk Kawasan Asia Tenggara dari Bank Standard Chartered, Tai Hui di Singapura, Rabu (25 /6). Hui berbicara dalam Asia Energy Executive Education (AEEE) yang digelar General Electric (GE) Energy.
Menurut Hui, ketika Amerika mengalami resesi pada tahun 2001, Singapura masih tercatat mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 4 persen. Adapun perekonomian Malaysia masih tumbuh 1,8 persen. Begitu juga dengan China yang masih tumbuh 0,2 persen. Perekonomian Vietnam diketahui tumbuh 0,1 persen. Sementara Filipina tumbuh 0,6 persen. "Dengan demikian, dampak perlambatan ekonomi Amerika tidak bisa dinilai secara menyeluruh. Dampaknya harus diperhitungan pada masing-masing negara," ujar Hui.
Perekonomian Asia mulai pulih pada tahun 2005. Pada tahun itu, nilai ekspor Asia ke Timur Tengah mencapai 89 miliar dollar AS. Angka itu melonjak t ajam pada tahun 2007 ketika nilai perdagangan Asia ke kawasan itu mencapai 140 miliar dollar AS. Saat ini, nilai impor Asia masih lebih tinggi dibanding ekspornya ke kawasan Timur Tengah. Nilai impor pada tahun 2005 mencapai 281 miliar dollar AS, dan makin bertambah pada tahun 2007 menjadi 450 miliar dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang