Indonesia Paling Terdampak Krisis Ekonomi AS

Kompas.com - 25/06/2008, 16:45 WIB

Laporan Wartawan Kompas Orin Basuki

SINGAPURA,RABU - Indonesia tercatat sebagai negara yang tergolong paling terdampak akibat perlambatan ekonomi di Amerika Serikat. Itu disebabkan pada tahun 2001, Indonesia mengalami pertumbuhan minus tiga persen, padahal negara-negara lain di kawasan Asia masih mencatat pertumbuhan yang positif. Pada tahun 2001, Amerika mengalami resesi ekonomi, pada saat itu, dan akibatnya seluruh dunia terkena dampaknya.

Kepala Peneliti Ekonomi untuk Kawasan Asia Tenggara dari Bank Standard Chartered, Tai Hui di Singapura, Rabu (25 /6). Hui berbicara dalam Asia Energy Executive Education (AEEE) yang digelar General Electric (GE) Energy.

Menurut Hui, ketika Amerika mengalami resesi pada tahun 2001, Singapura masih tercatat mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 4 persen. Adapun perekonomian Malaysia masih tumbuh 1,8 persen. Begitu juga dengan China yang masih tumbuh 0,2 persen. Perekonomian Vietnam diketahui tumbuh 0,1 persen. Sementara Filipina tumbuh 0,6 persen. "Dengan demikian, dampak perlambatan ekonomi Amerika tidak bisa dinilai secara menyeluruh. Dampaknya harus diperhitungan pada masing-masing negara," ujar Hui.

Perekonomian Asia mulai pulih pada tahun 2005. Pada tahun itu, nilai ekspor Asia ke Timur Tengah mencapai 89 miliar dollar AS. Angka itu melonjak t ajam pada tahun 2007 ketika nilai perdagangan Asia ke kawasan itu mencapai 140 miliar dollar AS. Saat ini, nilai impor Asia masih lebih tinggi dibanding ekspornya ke kawasan Timur Tengah. Nilai impor pada tahun 2005 mencapai 281 miliar dollar AS, dan makin bertambah pada tahun 2007 menjadi 450 miliar dollar AS.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau