Deklarasi Bali di COP-9 Terancam Deadlock

Kompas.com - 25/06/2008, 16:55 WIB

DENPASAR, KOMPAS - Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar membenarkan kesepakatan pada Konferensi Para Pihak Ke-9 (COP-9) dari Konvensi Basel, di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, itu terancam deadlock. Kesepakatan tersebut mengenai boleh dan tidaknya melakukan ekspor-impor limbah bahan berbahaya beracun. "Tetapi kami akan mengupayakan sekuat tenaga melalui lobi-lobi terutama kepada mereka yang tetap setuju adanya ekpor-impor limbah. Indonesia tetap pada posisi tidak setuju adanya pengiriman limbah itu," tegasnya.  

 

Konferensi yang diikuti 1.000 delegasi dari 170 negara itu telah diawali pada 23 Juni lalu masih dalam taraf pembicaraan alot dan tarik ulur antara negara-negara pro dan kontra soal pembuangan limbah tersebut, khususnya negara maju yang telah mengeskpor limbah. Rencananya akan menghasilkan "Deklarasi Bali" yang secara khusus menyoroti pentingnya kesehatan dan manajemen limbah dalam strategi pembangunan global.  

 

Rachmat menambahkan, pihaknya tetap menginginkan adanya hasil maksimal untuk seluruh negara baik yang pro maupun kontra dalam menyatakan menolak impor-ekspor limbah . Ia tidak ingin mengulang keputusan yang juga deadlock pada 10 tahun lalu di Basel. (AYS)  

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau