Amien Rais: Skandal Minyak Kalahkan Munir dan Urip

Kompas.com - 26/06/2008, 17:18 WIB

JAKARTA, KAMIS - Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Amien Rais mengatakan jika Pansus Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat mengenai kenaikan harga BBM bekerja baik, akan membongkar skandal besar yang terjadi dalam pengelolaan minyak di Indonesia selama ini.

Amien mengatakan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla tidak mampu mengelola perminyakan di Indonesia secara baik. "Pemerintah kita sekarang sudah karut marut dalam menangani kebijakan energi," ujar Amien di Jakarta, Kamis (26/6).

Salah satu bukti gagalnya pemerintah mengelola perminyakan di tanah air ini yakni semakin menurunnya produksi minyak di Indonesia dari tahun ke tahun. Selain itu ia mengatakan adanya mafia dalam bidang perminyakan, penyelundupan, dan juga pencucian uang. "Penyimpangan-penyimpangan di atas membuat masyarakat Indonesia terpuruk," katanya.

Untuk itu, lanjutnya, masyarakat maupun media harus terus mengawal keberlangsungan hak angket tersebut sebagai langkah awal untuk menguak berbagai penyimpangan dalam pengelolaan perminyakan di Indonesia.

Amien mengatakan jika kasus-kasus di atas terkuak, akan mengagetkan bangsa Indonesia. "Insya Allah jika Pansus Hak Angket bekerja baik, ini akan terkuak lebih mengagetkan dari kasus business woman (Artalyta) dengan jaksa, lebih mengagetkan lagi dari kasus Munir," ujar Amien kepada wartawan usai memjadi pembicara acara diskusi di Kantor PBNU, Jakarta.

Amien juga mempertanyakan jumlah dana yang berada di BP Migas saat ini yang cuma Rp 25 triliun sebagaimana ditemukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jumlah ini berbeda dengan catatan sebuah harian di Jakarta yang mengatakan BP Migas mestinya menyimpan dana sebesar Rp 225 triliun. "Jadi yang Rp 25 triliun itu tidak tahu di mana rimbanya," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau