Tidak Ada Firasat, Keluarga Agung Pasrah

Kompas.com - 28/06/2008, 07:19 WIB

MALANG, SABTU  –  Salah satu keluarga korban jatuhnya pesawat Casa 212 TNI AU milik Skuadron 4 Pangkalan Udara Abdurahman Saleh Malang yaitu Co-Pilot Kapten Pnb Agung Priantoro mengaku pasrah, Jumat (27/6). Apalagi sekitar pukul 15.00 WIB, instansi Agung sudah memberitahu kondisi pesawat hancur.

“Kami hanya bisa pasrah saja. Bagaimana lagi?” jawab Dini, adik bungsu Agung sambil terisak. Seluruh keluarga Agung kini berkumpul di rumah istrinya, Astri di Jl Jember, Kota Malang. Menurutnya, ia tidak memiliki firasat apa-apa. Terakhir kali ia bertemu dengan kakaknya minggu lalu.

“Tapi bapak saya, Nurawan yang bertemu Mas Agung sebelum berangkat, Sabtu (21/6). Karena itu Bapak sedih sekali,” tuturnya tentang Nurawan, pensiunan TNI AU yang pernah jadi pelatih terjun itu.

Yang jelas, kondisi istri Agung, ibu dari Aurel yang kini berusia tiga tahun sangat shock mendengar berita tersebut. Tidak ada kegiatan khusus di rumah keluarga istri Agung. Hanya semua sedang berkumpul sambil menunggu informasi lebih lanjut. “Sebab semua kan ada protapnya,” tutur Dini.

Pesawat naas itu mengangkut 18 orang termasuk lima awak, meliputi Mayor Pnb B Arjianto, Kapten Pnb Agung Priantoro, Lettu Pnb Febi Fitrian, Lettu Tek Bambang Triyantono, dan Pelda Agung Susanto, warga Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Menurut beberapa tetangga Nurawan di Perumnas Sawojajar II, Jl Kapi Anula, ketika mendengar berita itu dari televisi ada yang menyempatkan diri datang ke rumah Nurawan. “Saya menyempatkan datang ke rumah pak Nur setelah diberitahu tetangga. Keadaan rumah sepi ketika saya datang sekitar pukul 07.30 WIB,” kata Paimun atau akrab dipanggil Mbah Mun, karib Nurawan.

Menurutnya, meski sahabatnya tidak menunjukkan kesedihannya, tapi ia tahu sedih. “Agung merupakan anak kedua pak Nur,” tuturnya. Karena berita di televisi pada Jumat pagi juga belum jelas tentang dimana lokasi jatuhnya termasuk kondisi penumpangnya, sehingga tidak semua datang ke rumah Nurawan.

Jumat sore sekitar pukul 15.00 WIB, keluarga Nurawan meninggalkan rumahnya yang berpagar daun luntas itu. Sehingga kondisi rumah sangat sepi. Lampu teras pun sudah dinyalakan. Menurut keterangan Kadis Ops Lanud Abd Saleh, yaitu Kolonel Pnb Ismet Saleh, pesawat Casa jenis C 212-200 telah meninggalkan pangkalan sejak 23 Juni 2008.

Pesawat ini akan digunakan untuk melaksanakan misi uji coba kamera dari Dinas Survei dan Pemotretan Udara TNI AU di daerah Bogor dan sekitarnya. “Setelah berangkat dari Lanud Abd Saleh, pesawat langsung menuju Lanud Halim Perdanakusuma untuk dipasang kamera untuk pemotretan udara yang akan diuji coba,” ujar Ismet Saleh pada wartawan, Jumat (27/6).

Pesawat ini sengaja dipilih untuk digunakan sebagai uji coba karena pesawat buatan PT IPTN yang bergabung dengan Lanud Abd Saleh sejak 1984 ini memiliki kemampuan untuk melakukan pemotretan. Selain itu pesawat ini juga memiliki kemampuan lain di antaranya :


-Stol (short take off and landing)

-Angkutan udara personil/barang secara terbatas

-SAR terbatas

-Penerjunan personel/barang

-Hujan buatan (modifikasi cuaca)

-Pemotretan / pengintaian udara vertical/oblique camera video streaming

-Flying class room sekolah navigator

-Ambulans udara (medevac)

Setelah kamera terpasang pada tanggal 26 Juni 2008 pukul 09.23 WIB, pesawat Casa take off dari Lanud Halim Perdanakusuma menuju pegunungan Salak di Bogor sebagai lokasi pemotretan. Namun pada pukul 10..29 WIB Jakarta Air Traffic Control kehilangan kontak dengan para pilot Cassa. Upaya untuk mengontak pilot terus dilakukan petugas control. Namun pada pukul 11.40 WIB, keberadaan tidak terpantau radar Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas).vie/st26

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau