Kepala Staf TNI AU datang silih berganti dan selama beberapa periode terakhir salah satu isu yang menjadi program utama adalah zero accident atau misi tanpa kecelakaan.
Namun, keinginan tersebut rupanya belum terkabulkan. Dalam beberapa tahun terakhir, masih terjadi sejumlah kecelakaan hingga apa yang dialami oleh pesawat angkut ringan CASA 212 A-2106 Kamis (26/6).
Pesawat mengalami musibah ketika menjalankan misi menguji peralatan fotografi digital baru.
Penyebab musibah itu sendiri masih perlu didalami oleh tim penyelidik, tetapi apa yang pernah dialami oleh pesawat C-212 yang disewa oleh Departemen Pertahanan AS pada tahun 2004 bisa memberi sedikit ide (clue) tentang apa yang mungkin terjadi terhadap pesawat yang mulai dioperasikan tahun 1984 ini. Saat itu pesawat yang diterbangkan untuk pengangkutan logistik pasukan AS menabrak Gunung Baba di Afganistan, yang tingginya 16.700 kaki atau sekitar 5.000 meter. Ketinggian gunung tersebut melebihi ketinggian operasional C-212, yang umumnya di bawah 10.000 kaki atau sekitar 3.300 meter. Ini disebabkan kabin C-212 tidak bertekanan (non-pressurized).
Dari pengalaman itu, memang sesungguhnya berbahaya menerbangkan C-212 di kawasan pegunungan tinggi, termasuk yang ada di wilayah selatan Jawa Barat. Dalam penjelasannya di Metro TV, Wakil KSAU Marsdya I Gusti Made Oka menyebutkan, jalur terbang pesawat saat kecelakaan memang terlampau ke selatan dari seharusnya. Mengapa bisa terjadi demikian, hal itu masih membutuhkan penyelidikan lebih jauh. Satu hal yang sudah jelas, kawasan pegunungan sering mengalami perubahan cuaca cepat, dari semula cerah mendadak berubah menjadi berawan tebal.
Namun, sekali lagi, penyebab pasti masih harus ditemukan oleh tim investigasi.
Penuh riwayat
Diriwayatkan, ketika BJ Habibie ditugaskan mendiang Presiden Soeharto untuk mengembangkan industri kedirgantaraan di Indonesia pada pertengahan dekade 1970-an, ia berusaha mengetuk pintu pabrik-pabrik besar di Eropa dan Amerika Utara. Namun, rupanya yang ketemu jodoh adalah pabrik Spanyol, CASA, yang sekarang menjadi bagian dari konglomerasi kedirgantaraan Eropa, EADS.
Setelah CASA setuju membantu Indonesia, dimulailah tahap pertama proses transformasi teknologi yang ditandai dengan perakitan teknologi yang sudah ada, yaitu C-212 seri 100 pada tahun 1976. Setelah membuat sebanyak 28 pesawat, produksi pun dialihkan ke Seri 200, yang badannya lebih panjang, pada tahun 1979.
Sejak itulah mengalir pesawat NC-212 Seri 200 tidak saja ke TNI AU, tetapi juga ke maskapai penerbangan yang menggeluti jalur-jalur perintis, seperti Merpati. (N dari Nurtanio, nama pabrik sebelum berubah menjadi IPTN) Dari Manado ke Tahuna atau Gorontalo di Sulawesi Utara, NC-212 melayani penumpang dengan setia, demikian pula dari Denpasar ke Lombok dan kota-kota lain di wilayah Indonesia timur dan juga barat. Kalau C-212 ingin dijadikan sebagai jembatan udara Nusantara, pesawat yang berdaya jelajah 1.400 kilometer ini tergolong memadai.
Fenomena C-212 tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara lain di dunia. Tercatat tidak kurang dari 38 negara pengguna C-212. Penggunanya juga tidak saja dari angkatan udara atau penerbangan perintis, tetapi juga organisasi terjun payung skydiving. Salah satu tipe pesawat ini juga dibuat sebagai sarana evakuasi medis (medevac). Adanya pintu ekor menambah daya tarik C-212.
Melihat peluang pasarnya, Spanyol terus mengembangkan C-212 yang semula diberi julukan ”Aviocar” atau mobil udara. Pada tahun 1987 muncul Seri 300, dengan propeler desain baru, sirip tegak lebih besar, dan dipasangi winglet. Bahkan, berikutnya CASA—yang juga membuat pesawat CN-235 bersama IPTN/PT DI—memunculkan Seri 400 pada tahun 1997. Seri ini jauh lebih maju dibandingkan Seri 200, antara lain dilengkapi dengan peralatan Electronic Flight Instrument System dan Flight Management System.
Pesawat relevan
Dalam perkembangan dunia penerbangan, kini ada pesawat jumbo dan bahkan superjumbo A-380. Tetapi, jembatan udara Nusantara membutuhkan pesawat sekelas C-212 atau CN-235 dan mestinya memang pesawat inilah yang seharusnya dikuasai produksi dan pemasarannya oleh industri kedirgantaraan Indonesia. Daripada mengembangkan N-219 yang pasti akan sangat mahal untuk kondisi Indonesia dewasa ini, lebih baik C-212 dan CN-235 saja yang disempurnakan.
Semenjak Pameran Kedirgantaraan Asia di Singapura, Februari 2006, pihak EADS-CASA telah gencar menawarkan pengalihan produksi Seri 400 dari San Pablo, Spanyol, ke Indonesia. Tak lama setelah rencana itu diumumkan, maskapai penerbangan Merpati mengumumkan akan membeli 10 pesawat yang satu unitnya berharga 5,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 50 miliar ini. Untuk itu, PT DI diberitakan mendapatkan pinjaman senilai 100 juta dollar AS dan diharapkan produksi bisa dimulai tahun 2008.
Dengan Seri 400, CASA berharap masih ada banyak lagi C-212 yang akan dibuat menyusul lebih dari 470 pesawat yang sudah dibuat sejauh ini dan dioperasikan oleh 89 operator (AF Technology/SPG Media Ltd, 2007).
Sama seperti pendahulunya, selain untuk angkutan penumpang (meski AS belum memberi sertifikasi untuk ini), Seri 400 juga dibuat untuk angkut militer dan pengintai. Adanya fotografi digital pada versi pengintai memang akan memberi nilai tambah pada pesawat ini. Dengan daya jelajah yang menjadi 1.600 km, Indonesia pun layak punya pesawat ini, lebih-lebih saat penangkapan ikan ilegal merajalela di perairan kita. C-212 Patrullelo oleh Spanyol sendiri digunakan oleh kementerian pertanian, perikanan, dan pangan untuk patroli maritim. (Ninok Leksono)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang