Musim Kemarau, Kasus Disentri, Diare Muntaber Stabil

Kompas.com - 28/06/2008, 10:50 WIB

SEMARANG, SABTU - Kasus penyakit diare, disentri, dan muntaber di Jawa Tengah tidak ada peningkatan meskipun musim kemarau berkepanjang telah melanda beberapa kabupaten/kota di provinsi ini.
      
Berdasarkan keterangan dari beberapa rumah sakit (RS) di Semarang, Sabtu, kasus penyakit diare, muntaber, dan disentri tidak ada peningkatan pada musim kemarau tahun ini karena tidak ada kejadian luar biasa (KLB) penyakit itu.

"Kasus penyakit diare, muntaber, dan disentri belum tampak ada peningkatan pada musim kemarau ini karena pasien yang berobat mayoritas mengeluh sakit flu, batuk, dan pilek," kata Susanti (41) petugas rawat jalan di RSUD Kota Semarang.    

Sebenarnya, kasus penyakit diare, muntaber, dan disentri tidak hanya terjadi pada musim kemarau belaka. Namun setiap saat bisa menyerang jika seseorang tidak bisa menjaga kebersihan diri dengan baik.

"Setiap bulan seseorang bisa terkena diare tiga sampai empat kali. Apalagi yang bersangkutan tidak membersihkan tangan dengan baik ketika akan makan. Penyakit jenis ini bisa menyerang kapan saja, baik itu musim hujan maupun kemarau," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, dr. Hartanto.

Jika ada anggota keluarga yang menderita penyakit diare  secepatnya diberi oralit. Namun apabila penyakitnya tidak kunjung reda harus dibawa ke rumah sakit (RS), puskesmas, dan dokter terdekat agar sampai kehabisan cairan, katanya.

Dia mengatakan, jika penderita sampai kehabisan cairan dapat berakibat fatal karena jiwanya tidak bisa tertolong. "Biasanya sesampai di RS penderita langsung diinfus agar tidak kehabisan cairan (dehidrasi)," katanya.
     
Untuk mencegah terjadinya diare, muntaber, dan disentri, kata dia, kalangan masyarakat harus membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan, usai buang air besar, melindungi makanan dari lalat, dan hindari makanan basi.
     
"Kita minta kalangan masyarakat di pedesaan yang kesulitan mencari air untuk kebutuhan sehari-hari perlu berhati-hati. Air sebelum dikonsumsi harus dimasak lebih dahulu agar kuman dalam air mati," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau