SEMARANG, SABTU - Kasus penyakit diare, disentri, dan muntaber di Jawa Tengah tidak ada peningkatan meskipun musim kemarau berkepanjang telah melanda beberapa kabupaten/kota di provinsi ini.
Berdasarkan keterangan dari beberapa rumah sakit (RS) di Semarang, Sabtu, kasus penyakit diare, muntaber, dan disentri tidak ada peningkatan pada musim kemarau tahun ini karena tidak ada kejadian luar biasa (KLB) penyakit itu.
"Kasus penyakit diare, muntaber, dan disentri belum tampak ada peningkatan pada musim kemarau ini karena pasien yang berobat mayoritas mengeluh sakit flu, batuk, dan pilek," kata Susanti (41) petugas rawat jalan di RSUD Kota Semarang.
Sebenarnya, kasus penyakit diare, muntaber, dan disentri tidak hanya terjadi pada musim kemarau belaka. Namun setiap saat bisa menyerang jika seseorang tidak bisa menjaga kebersihan diri dengan baik.
"Setiap bulan seseorang bisa terkena diare tiga sampai empat kali. Apalagi yang bersangkutan tidak membersihkan tangan dengan baik ketika akan makan. Penyakit jenis ini bisa menyerang kapan saja, baik itu musim hujan maupun kemarau," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, dr. Hartanto.
Jika ada anggota keluarga yang menderita penyakit diare secepatnya diberi oralit. Namun apabila penyakitnya tidak kunjung reda harus dibawa ke rumah sakit (RS), puskesmas, dan dokter terdekat agar sampai kehabisan cairan, katanya.
Dia mengatakan, jika penderita sampai kehabisan cairan dapat berakibat fatal karena jiwanya tidak bisa tertolong. "Biasanya sesampai di RS penderita langsung diinfus agar tidak kehabisan cairan (dehidrasi)," katanya.
Untuk mencegah terjadinya diare, muntaber, dan disentri, kata dia, kalangan masyarakat harus membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan, usai buang air besar, melindungi makanan dari lalat, dan hindari makanan basi.
"Kita minta kalangan masyarakat di pedesaan yang kesulitan mencari air untuk kebutuhan sehari-hari perlu berhati-hati. Air sebelum dikonsumsi harus dimasak lebih dahulu agar kuman dalam air mati," katanya.