Helipad untuk Evakuasi Korban Casa

Kompas.com - 28/06/2008, 12:13 WIB

BOGOR, SABTU  - Sebuah helipad dibuat di titik terdekat lokasi ditemukannya bangkai pesawat Casa N-212-200 milik TNI-AU di Kampung Pasir Gaok, Desa Cibitung, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar), guna memudahkan evakuasi korban.
    
Jenazah langsung diterbangkan ke Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdana Kusuma, Jakarta.  Proses evakuasi yang dilaksanakan tim gabungan dari TNI, Polri, Badan SAR Nasional dan masyarakat itu, masih terus dilanjutkan menuju dasar jurang hutan Tegal Lilin di lereng Gunung Salak, Desa Cibitung.
    
Asisten Operasional (As Ops) TNI AU, Marskal Muda Edy Harjoko mengatakan, pesawat Casa naas tersebut ditemukan tim SAR di titik koordinat, 06 derajat Lintas Selatan pada menit 41,340 dan 106 derajat Lintang Timur pada menit 43,270, serta radial 192 derajat  berjarak sekitar sembilan nautical mile (NM) dari Lanud ATS Bogor.
    
Pesawat tersebut jatuh di lereng Gunung Salak pada ketinggian 4.200 di atas permukaan air laut (dpal) yang medannya sulit. Menurut Wakil Kepala Penerangan Lanud Atang Sendjaya, Kapten (Sus) M Nazrun, tiga helikopter jenis Puma sudah disiapkan untuk mengevakuasi korban.
    
"Jenazah korban yang sudah ditemukan, nanti akan dievakuasi dari titik terdekat untuk langsung diterbangkan ke Lanud Halim Perdana Kusuma," katanya dan menambahkan bahwa jenazah yang sudah teridentifikasi empat orang.

Kabagops Polres Bogor, Kompol Didi Hayamansyah mengatakan, helipad yang  dipersiapkan adalah untuk memudahkan evakuasi para korban pesawat yang jatuh itu. Ia menambahkan, proses evakuasi tidak mudah, karena dari titik awal di perhentian yang bisa dijangkau ojek (sepeda motor) menuju lokasi ditemukannya pesawat itu tidak bisa dijangkau kendaraan, sehingga tim evakuasi harus berjalan kaki kurang lebih tiga jam.

Sementara itu, dari keterangan tim lapangan Kepolisian Wilayah (Polwil) Bogor diperoleh penjelasan bahwa sebanyak 15 jenazah telah ditemukan, namun belum teridentifikasi.

Pesawat Casa N212-100 yang bermarkas di Skadron 4 Pangkalan Udara Abdulrahman Saleh, Jawa Timur, merupakan pesawat angkut ringan yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pemotretan dan survey udara.

Pesawat bernomor registrasi A2106 pada Kamis (26/6) sekitar pukul 9.23 WIB berangkat dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma menuju Bogor dengan misi pelatihan terhadap penggunaan kamera digital udara yang baru.

Pada pukul 10.38 WIB, pesawat Casa itu hilang dari radar Popunas dan melakukan kontak terakhir dengan menara pengawas Pondok Cabe pada pukul 10.50 WIB saat menuju Bogor.

Pada pukul 11.10 WIB, pesawat sudah tidak bisa dihubungi oleh petugas menara pengawas di Lanud ATS Bogor. Pesawat itu mengangkut lima awak masing-masing Mayor (Pnb) Bendot Arjiyanto (Kapten pilot), Kapten (Pnb) Agung Priantoro (co pilot), Lettu (Pnb) Feby Fitrian, Lettu (Tek) Bambang Priyanto, dan Pelda Agus Susanto.
    
Selain itu, pesawat juga membawa 13 penumpang yakni, Kolonel (Sus) AF Jafara, Kolonel (Pnb) Sulaksono, Letkol (Tek) Wahyu Hidayat, Letkol (Sus) SUpriyadi, Mayor (Sus) Susi, Kapten (Sus) Doni Wicaksono, dan Lettu (sus) Ronal.

Tiga orang dari PT Aupia Perkasa yakni Gatot Purnomo, Saputra Sinaga dan Ami, serta tiga warga negara asing (WNA) yakni, Tan Hon King (Singapura), Kwong Ping Anthony (Inggris) dan Mahendra Kumar (India).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau